9 Hari Menjelajahi Pulau Togean, Sulawesi Tengah

Tahun lalu berbekal keisengan dengan Mba Rona, teman biasa jalan keliling mall, kolam renang dan backpacker-an pedalaman Indonesia (ga dalem-dalem amat sih) kita berdua di acara Travel Fair awalnya beli tiket tujuan kota pilihan masing-masing. Terus kepikiranlah beli tiket berdua kota tujuannya udah kayak mau suit aja pilih Ternate apa Togean, padahal yang nungguin antrian tiket kita udah panjang di belakang. Akhirnya aku pilih backpacker ke Togean karena belum pernah menginjakan kaki di pulau Sulawesi. Selain itu Togean juga terkenal dengan zona transisi garis Wallace dan Weber yang menyajikan rimbunan karang laut subur beserta hewan laut lainnya.

cindiltravel pulau togean

Kita memilih tiket pesawat pulang pergi Jakarta – Palu. Sebenarnya Togean bisa dituju dengan penerbangan Jakarta – Palu / Luwuk / Gorontalo. Setiap kota pilihan ada kosenkuensinya, kita pilih jalur via Palu karena kota besar dan mudah untuk menuju pelabuhan Ampana dengan naik mobil travel selama kurang lebih 10 jam. Luwuk – Ampana juga bisa ditempuh dengan mobil travel dengan lama perjalanan 5 jam. Sedangkan Gorontalo harus ditempuh dengan kapal ferry yang jadwalnya hanya ada setiap Senin & Kamis. Pertimbangan perjalanan laut yang tergantung cuaca membuat kami memilih jalur darat.

Seperti biasa aku mencari teman share cost dibeberapa situs forum jalan-jalan. Dengan waktu perjalanan 9 hari akhirnya yang konfirm

beli tiket hanya 4 orang : Aku, Mba Rona, Ferry dan Baks. Klo kata temen aku sih, siapa juga yang jalan 9 hari… alias lama amat cutinya, kita aja yang mau liburan sepuasnya tanpa gangguan. Berbekal informasi dari internet, teman dan yang paling komplit dari buku saku tentang Togean yang kami dapatkan saat pameran Deep & Extereme di Jakarta, rincian perjalanan kami revisi hingga 9 kali dengan tujuan tambahan Pulau Una Una yang belum banyak dibahas. Selanjutnya kami membagi tugas. Mba Rona booking travel dari Palu – Ampana PP dan penginapan di Pulau Kadidiri. Aku booking perahu kecil selama di Togean dan penginapan di Pulau Una Una. Jadwal public boat yang tidak sesuai dengan jadwal perjalanan kami menyebabkan kami harus sewa kapal sendiri agar mengejar waktu dan titik lokasi berpindah pulau. 2 hari sebelum keberangkatan Baks dirawat di RS karena sakit tipes, daripada lebih parah dan Rumah Sakit juga jauh dari Pulau Togean akhirnya Baks tidak bisa ikut perjalanan ini. Walaupun cuma bertiga, tapi kami tetap melakukan perjalanan ini.

Hari 1, Kamis 5 Mei 2016
Tujuan : Jakarta – Palu – Ampana

18.10 : boarding Jakarta menuju Palu
22.00 : Sampai di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu
23.00 : Kita sudah booking mobil Travel Togian Indah, sepakat dengan harga 1 juta diantar sampai Pelabuhan Ampana. Sebenarnya 1 mobil muat 7 orang. Kalau mau murah mengikuti jadwal travel jam 5 sore sudah siap dijemput di Palu tujuan Ampana. Bentuk travel sejenis L300 kadang kita saat berangkat kita ga dapet mobil AC katanya sih abis dibenerin. Baru masuk 20 menit perjalanan sepertinya kami masuk hutan dan tebing, sinyal sudah KO. Supir minta nyalain lagu dangdut, ya sudahlah ya pilih tidur pake earphone dengan hembusan angin malam sepoi-sepoi dan antimo si obat cantik melewati jalur kebun kopi dengan track extreem.

Biaya Pribadi :
Beli minum : Rp 9.000,-

Biaya Share Cost :
Sewa travel : Rp 1.000.000,-
Contact Travel Togian Indah : 085299477111 / 082343764369

 

Hari 2, Jumat 6 Mei 2016
Tujuan : Ampana – Pulau Kadidiri

06.30 : Sampai di Pelabuhan Ampana. Info dari tukang kapal yang kami booking selalu ada kapal hercules (speed boat harga Rp 130-150rb/ org) yang berangkat setiap pagi.

cindiltravel pelabuhan ampana 2

Pelabuhan Ampana

Sayangnya hari ini adalah long weekend dimana banyak pengunjung lokal yang juga berlibur ke Togean. Hercules yang akan kami naiki penuh dan kami dapat jadwal kapal ke 3 jam 14.00 yang bisa saja berangkat bisa saja tidak tergantung cuaca. Jika ingin berlibur ke Togean saat musim libur panjang dan ada waktu lebih, lebih baik menggunakan public boat KM Puspita dari Ampana dimana tiket tidak akan habis terjual dan tidak terlalu kecewa.

08.00 – 09.00 : Jalan ke pasar makan soto saudara (soto daging) / coto makassar Rp 25.000,-

11.00 – 15.30 : Perjalanan dari Ampana ke Pulau Kadidiri naik Katinting (perahu kecil).

cindiltravel pulau bomba

Sambil menunggu di tempat Ibu Ulfa, di Pelabuhan Ampana ada Ibu Dokter dan 3 orang temannya dari Poso dan Menado yang akan berlibur ke Pulau Bomba dan sama-sama menunggu di tempat Ibu Ulfa, mungkin melihat kami yang sudah menunggu kapal sedari pagi tanpa kepastian pergi ke Kadidiri akhirnya mereka berbaik hati memberikan tumpangan dari Pulau Bomba ke Pulau Kadidiri. Jadilah kami ber 7 naik katinting (perahu kecil) dari Ampana – Pulau Bomba – Pulau Kadidiri. Kami membayar sisa perjalanan dari Pulau Bomba ke Pulai Kadidiri Rp 700.000,-/ 3 org. Kalau kata sesama pejalan yang sudah sering ke Kadidiri itu harga murah kalau hitungan dari Pulau Ampana ke Pulau Kadidiri. Kami sempat menyandarkan kapal di dermaga Pulau Bomba. Pulau sepi dan tenang, penginapan ada di depan pantai. Guide yang membawa Ibu Dokter dan temannya membawa bahan makanan dari Ampana langsung. Ternyata dari penginapan menuju kampung Bomba harus menggunakan kapal.

15.30 – 16.00 : Setelah perjalanan jauh dilalui dengan tidur sepanjang perjalanan akhirnya sampai di Pondok Lestari dan langsung minta makan siang. Kita awalnya booking 2 kamar, karena hanya 3 orang jadi Ibu Niu pemilik penginapan menjadikan kita 1 kamar dengan harga Rp 150.000/ org. Begitu masuk kamar melongo karena isinya cuma kasur dan kelambu. Bahkan colokan listrik aja ga ada *___* listrik memang baru menyala di Pulau Kadidiri jam 18.00 – 24.00, jadilah kita pasang colokan buat booking tempat dari jam 16.00 di ruang makan 😀

16.00 – 17.30 : Keliling Pulau Kadidiri

cindiltravel pondok lestari kadidiri togean

Aku dan Mba Rona keliling Black Marlin & Kadidiri Paradise, tanya-tanya harga kamar dan jadwal diving sambil cari sinyal untuk telpon tukang kapal. Padahal aku udah ganti sinyal provider SIMPATI demi liburan dapet sinyal. Niatnya sih mau nyampah foto-foto di socmed eh boro-boro dapet sinyal, bisa sms sama telpon aja syukur minimal buat hubungi tukang kapal dan penginapan. Di Pulau Kadidiri nyari sinyal itu kita harus ke pinggir pantai sambil angkat HP berasa kayak minta sinyal dari langit. Dan lucunya di setiap penginapan ada spot khusus sinyal buat naruh HP. Di Kadidiri Paradise tempat sinyal HP-nya ada di pohon di luar penginapan (kalo di Jakarta HPnya udah ilang diambil orang).

17.30 – 18.30 : Hujan deras datang di Pulau Kadidiri. Antri mandi.

18.30 – 23.00 : Makan malam.

cindiltravel pulau kadidiri

Di ruang makan menjadi tempat ngumpul orang-orang atau jadi ruang publik sekaligus ngecharge HP dan peralatan kamera. Di Penginapan Pondok Lestari rata-rata pengunjungnya orang Indonesia. Kita satu meja makan dengan Adit asli Purworejo, Misdar asli Palembang dan Mega yang baru melakukan perjalanan ke Banggai via Luwuk. Liat foto-foto di Banggai, masih alami dan belum tersentuh pendatang bahkan mereka menginap di rumah penduduk. Bertemu Reni dan temannya yang sama-sama dari Jakarta. Kita makan dan ngobrol bersama bercerita tentang rencana selama di Togean.

23.00 – 01.00 : Rencananya mau liat bintang di pinggir pantai, eh Mba Rona sama Ferry udah tepar. Pas lagi mau sikat gigi, denger ada yang lagi ngobrol di pantai depan kamar jadilah aku jadi ikutan. Eh ternyata ada Adit sama Misdar ngobrol sama Mas Damas asal Jogja merantau di Makassar, Mas Taufan merantau di Palu asal Jawa Barat. Mereka abis keliling penginapan Pulau Kadidiri, katanya kalau mau ke club dan party tinggal geser ke Kadidiri Paradise. Hahaha. Kan kita ke sini cari tenang bukan malah party. Kata Mas Damas : ketauan deh, kalau di Pondok Lestari turis versi backpacker. Ya udah deh kita cerita-cerita pengalaman keliling Indonesia dari ujung Barat sampe Timur ngalor-ngidul sambil duduk di pasir. Jam 12 malam listrik mati, gelap gulita, kita aja ga bisa liat siapa depan kita tapi langit makin cerah dengan bintang bertebaran dan suara alunan ombak. Suasana yang ga bisa didapet di Jakarta. Sayang kita ga ada yang ngerti cara bikin milky way, padahal Mas Damas dan Adit lihat bintang jatuh.

Biaya Pribadi :
Makan soto : Rp 25.000
Kamar di Pondok Lestari Kadidiri : Rp 150.000,-/ org sudah termasuk 3x makan, kamar mandi luar
Aqua : Rp 10.000,-

Biaya Share Cost :
Sewa perahu Katinting Pulau Bomba – Pulau Kadidiri : Rp 700.000,- dibagi 3 org

Note Penginapan di Pulau Kadidiri & Public Boat :
Untuk harga kamar standar di Kadidiri Paradise dan Black Marlin sama mulai 275ribu/ org/ hari. Harga paling murah memang hanya Pondok Lestari 150rb/ org/ hari. Semua harga sudah termasuk 3x makan. Hanya fasilitas kamar dan ambience hotel yang berbeda.
Public Boat Ampana – Pulau Kadidiri : Senin, Rabu dan Sabtu jam 10 pagi.

Apa yang bisa dilakukan di Pulau Kadiri :
Berenang, snorkeling (bisa sewa alat / bawa sendiri) cukup berenang dari bibir pantai menuju ke tengah. Diving di sekitar Kadidiri atau ke beberapa site dive di pulau lain,  beberapa orang ambil lisensi disini. Bermain volley atau bola kaki, sekedar berjemur di pantai, menikmati sunset di sore hari dan melihat milky way di malam hari. Hopping Island ke pulau lainnya bisa dilakukan dari Pulau Kadidiri dengan menyewa kapal dari penginapan atau booking tukang kapal dari Pulau Wakai jauh-jauh hari.

Hari 3, Sabtu 7 Mei 2016
Tujuan : Pulau Kadidiri – Pulau Una Una

07.00 : packing
07.30 : sarapan
Sempet shyok karena di Pondok Lestari hanya menyediakan kue goreng buat sarapan. Karena berencana ke Una-una dan cukup jauh jadi aku pesen nasi dan telur ceplok Rp 15.000/ porsi. Harga Indomie Rp.15.000/ porsi. Harga Aqua besar Rp 10.000,- Harga bir Rp30.000,-

cindiltravel pulau togean 1

berfoto bersama para pejalan dari Jakarta yang ketemu di Togean 🙂

08.00 – 10.00: mencari perahu ketinting yang nyasar ke penginapan sebelah.

Seharusnya kami sudah berangkat ke Pulau Una-Una dengan kapal yang kami carter 2 minggu sebelum bahkan semalam kami telponan. Tapi ternyata pemilik kapal pagi-pagi mengambil order dari orang lain dengan tujuan lain. Terpaksa deh liburan pake emosi dulu biar kami semua tetap berangkat ke pulau Una Una. Dengan segala emosi yang keluar, akhirnya kami berangkat juga dengan kapal yang sudah kami carter dengan tujuan Pulau Una Una.

cindiltravel togean 2

akhirnya berangkat juga ke Pulau Una Una

 

10.30 – 12.30 : sampai di Penginapan Sanctum, Pulau Una Una. Bertemu dengan Alli dan Luca. Awalnya kita mau booking kamar standar, tapi ternyata hanya ada untuk 1 malam harga Rp 225.000/ diver/ malam, Rp 265.000/ non diver/ malam. Akhirnya kami pilih kamar deluxe yang menurutku cukup bersih, nyaman, besar untuk bertiga dengan pemandangan pantai di teras kamar dengan harga Rp 285.000/ diver/ malam dan Rp 350.000/ non diver/ malam.

12.30 – 13.30 : Makan siang.

cindiltravel ruang makan di sanctum una una

meja makan bersama di Sanctum

Akhirnya kami menemukan makan siang dengan paket lengkap nasi, sayur bening labu kuning dan daun ubi, telur ayam, buah semangka dan acar timun bumbu kuning dengan ruang makan semi outdor dan interior yang cantiiik.

13.30 – 14.30 : Awalnya Anni mengajak kami untuk langsung diving tapi kayaknya kita ga sanggup deh jadi pilih leyeh-leyeh di Penginapan Sanctum. Perjalanan jauh ini terbayarkan sudah dengan view indah di depan kamar langsung laut, nuansa penginapan sederhana tapi serasa di rumah serta penghuni dan staff yang rata-rata orang luar negeri tapi ramah-ramah.

cindiltravel sanctum pulau una una 3

sampe juga di Sanctum, Una Una

cindiltravel pulau togean pulau una una

tempatnya bikin pengen libur terus

14.30 – 15.30 : Keliling kampung Pulau Una Una.

 

cindiltravel pulau togean masjid pulau una una

Masjid tertua ke dua di Indonesia, ada di Pulau Una Una

Kami berjalan menyusuri jalan tak beraspal menuju kampung mengikuti garis jejak motor yang menyisa melewati barisan pohon kelapa, pohon jati dan perkampungan. Kami melihat mesjid tertua ke dua di Indonesia yang masih kokoh berdiri sejak penjajahan Jepang dan masih digunakan hingga saat ini.

15.30 – 17.30 : Nonton Pertandingan Bola dan Voli

Di Una Una sedang ada pertandingan final sepak bola dan bola voli, yang disponsori oleh Bapak Budi Ahmad perantau dari Una Una yang sukses di Jakarta. Lapangan bola yang berukuran kecil disulap seperti kebanyakan acara desa dan festival di Indonesia, dengan mini panggung dan speaker berukuran besar tak lupa beberapa penjual makanan dan minuman dadakan tapi tetap teratur. Saat pertandingan bola mulai, kami ikut menuju lapangan bola. Saat pertandingan bola istirahat, semua beralih menuju ke lapangan voli. Ternyata yang bermain voli adalah para ibu-ibu yang kami temui di pelabuhan Ampana dan mengobrol bersama selama di Pelabuhan. Ya, mereka ternyata 3 orang pemain transfer dari Ampana. Hahahaha. Pemain daerah aja udah bisa transfer antar pulau. Kereeeen. Dan kami berpelukan layaknya saudara jauh yang tidak pernah bertemu. Ternyata mereka juga mengingat kami dengan baik. Bahkan Ibu Ike yang bekerja di Dinas Pariwisita Togean, berbaik hati menawarkan untuk mampir ke kantornya jika kami sampai di Ampana nanti. Keriaan permainan bola akhirnya berakhir dengan  adu pinalti sebanyak 2 ronde, sejarah pertama permainan bola karena jarang ada sampai 2 ronde sangking kecil-nya itu lapangan. HAHAHAHA.

17.30 – 18.30 : perjalanan pulang dari menonton bola menuju Penginapan Sanctum.

Saat ada perkampungan sih masih ada lampu penerangan, tapi saat melewati barisan pepohonan rindang sudah tidak ada lampu sama sekali. Jadi sekali lagi, senter sangat berfungsi minimal HP yang ada aplikasi senternya.

18.30 – 19.30 : Makan malam.

Lagi-lagi kami ketinggalan jam makan malam. Tapi ga apa-apa, kita kan bagian pembersih jatah makanan. Makanan habis hanya bersisa acar timun. Untung itu bule-bule udah pada ga ada di meja makan. Bisa malu sama piring dan perut. HAHAHA

19.30 – 22.00 : Makan malam.

Hujan besar di Pulau Una Una. Beruntung kami ketemu sama Wahyu, solo traveler dari Makassar yang berniat diving di Pulau Una Una. Bahagianya kami bertemu sesama orang Indonesia jadilah kami mengobrol dengan bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia. Rata-rata pendatang di penginapan Sanctum adalah turis asing dan hanya kami berempat yang lokal. Para turis di sini rajin-rajin, rajin bangun pagi, tidur cepat jam 10 malam sudah masuk kamar, kerjanya diving, snorkeling, leyeh-leyeh baca buku. Beda banget sama turis Pulau Kadidiri yang masih “on” bikin party dadakan di pinggir pantai.

Biaya Pribadi :
Makan nasi di Pulau Kadidiri : Rp 15.000,-
Kamar di Sanctum, Pulau Una Una : Rp 285.000,-/ org/ hari, 3x makan, kamar mandi dalam.
Beli minum : Rp 18.000,-

Biaya Share Cost :
Sewa perahu Katinting Pulau Pulau Kadidiri – Pulau Una Una : Rp 700.000,- dibagi 3 org

Apa yang bisa dilakukan di Pulau Una Una :
Berenang, snorkeling, diving (ambil lisensi), keliling kampung, trekking dan naik Kawah Gunung Colo Rp 100.000,-/ org, keliling kampung, leyeh-leyeh, berjemur di pantai, menikmati sunset di sore hari dan melihat milky way di malam hari.

Contact Penginapan Pulau Una Una :
http://www.unauna-sanctum.com. Email: info.unauna@gmail.com
Andri. No HP : +62 812 853 25669
Emmi No HP : +6281355461098

Note : Harga lebih murah bagi diver. Kalau mau penginapan lebih murah ada Black Nino, Arjuna.

Hari 4, Minggu 8 Mei 2016
Tujuan : Pulau Una Una

07.00 : Kata Wahyu kalau ga bangun pagi, makan tinggal sisa. Terpaksa deh aku bangun pagi demi nasi goreng, pisang dan kue kacang.
08.00 – 09.00 : Berhubung jam diving masih jam 10 pagi, jadilah aku balik kamar tidur lagi.
09.00 – 10.00 : Leyeh-leyeh depan kamar.

cindiltravel sanctum pulau una una

leyeh-leyeh di depan kamar mandang laut

10.00 – 10.30 : Persiapan diving

 

Dibrief oleh Nick, Dive Master asal London. Kebetulan ini dive center, DMnya import dari luar negeri semua. Trus galak-galak klo dibawah laut, tapi aslinya baiiiik banget. Ga boleh nyenggol karang, ga boleh terlalu deket-deket, ga boleh pegang ikan. Ini merupakan dive site pertamaku setelah mendapatkan lisensi diving, jadi Nick memberikan beberapa instruksi dan arahan sebelum naik kapal dengan jokes agar aku tidak grogi. Saat aku bilang aku pakai softlens karena minus 6, Nick dan Luca melihat mataku dengan tatapan “eyes to eyes” Nick malah bilang : it’s a beautiful eyes. Wkwkwkwk. Malah dipuji 😍😍😍. Saat ujian di Pulau Pramuka, Bang Jo dive master-ku memberi pemberat 4 kg dan dia bilang selanjutnya akan jadi 3 kg. Dan ternyata benar, Nick memberiku 3 kg pemberat.

10.30 – 12.00 : diving di Hongkong site.

Perjalanan dari Sanctum menuju Hongkong dive site membutuhkan 20 menit perjalanan menggunakan boat. Luca akan menemani aku dan Mba Rona selama diving di bawah. Setiap 2 orang akan mendapatkan 2 pendamping. Kata Mba Rona, it’s a private dive. Awalnya aku takut banget waktu disuruh turun dengan cara membalikkan badan muter ke belakang. Duuuh kemarin kan waktu tes di laut pake shore dive, bawa tank dari pantai ke laut. Lah ini sekarang udah dive beneran, terus suruh muter ke belakang. Aku bilang sama Nick kalau aku takut banget, takut muter dan kemasukan air terus panik. Tapi Nick berkali-kali bilang untuk tenang, dia bakalan liat dan jagain aku, Nick ajarin cara-caranya di depan aku. Kalau terjadi apa-apa pasti dia akan tolongin aku, “trust me baby”. Huaaa. Klepek-klepek deh Nick ngomong gitu. Dan pas Nick hitung 1, 2, 3 dan aku langsung turun sendiri. Aaaaaand YES Baby, I can do it! Tanpa kemasukan air. Bahagiaaaaaa.

12.30 – 13.30 : Makan siang
13.30 – 15.30 : Diving di Pinnacle I

cindiltravel diving di pulau una una

ketemu Nick di Pinnacle I

Ini site seru banget! Kayak gunung coral muterin ga ada habisnya. Pertama kalinya udah mulai stabil bouyancy. DM aku Alli dan Liam, jaga dari jarak jauh aja. Kadang Alli di atas atau di samping aku. Kalau aku mau dekat wall, Alli langsung kode ga boleh deket. Mereka DM luar tapi concern banget sama lingkungan bawah laut.

15.30 – 17.30 : Tidur  di hammock depan Sanctum. Abis diving kerjanya leyeh-leyeh di hammock, ga ada sinyal, ga pake gadget kerjanya baca buku, tidur, liat laut sama langit

cindiltravel pulau una una 3

17.30 – 18.00 : Setiap orang datang ke dermaga cuma duduk dan tiduran nungguin sunset.

cindiltravel sunset di sanctum pulau una una

menunggu sunset di sanctum

cindiltravel sunset di una una

menunggu sunset

Di Sanctum, karena penginapannya terpencil dan hanya satu-satunya, menurutku semua tamu jadi saling kenal dan saling ngobrol. Baik staff yang dan pengunjung yang rata-rata orang asing sangat ramah. Kami bercerita berbagai hal, terutama keindahan Indonesia. Biasanya setelah snorkeling atau diving kita bercerita di ruang makan atau di teras kamar tentang pengalaman dan apa aja yang kita temui. Itu bikin kita makin saling kenal antar penghuni kamar. Dan yang paling bikin klepek-klepek adalah beberapa “bule muda” yang ramah seperti Liam (DM asli London yang lagi ambil Advance) dan Orion (turis asal US) si konsultan yang liburan sama Bapaknya. Mereka berdua udah imut, ramah banget lagi 😍😍😍 *sayang mereka libur lama-lama jadi ga bisa dibawa pulang ke Jakarta -___-

18.00 – 19.00 : Mandi
19.00 – 20.30 : Datang ke pernikahan warga kampung Pulau Una Una.

cindiltravel pulau togean pernikahan warga pulau una una

lihatlah kita yang pake baju ala kadarnya di pernikahan warga Pulau Una Una

Penghuni dan tamu penginapan Sanctum diundang ke nikahan warga kampung Pulau Una Una. Yay! Makan enaaaaaak! Jadilah kami jalan kaki malam-malam, gelap gulita melewati barisan pohon jati, semak dan sebagainya sekitar 2 km. Sampai disana kami menikmati makanan pernikahan seperti ikan goreng sambal mentah, sayur sop daging, gulai sapi, sayur labu siam tumis, daging semur, mie, minuman buah-buahan. Acara ditutup dengan bersalaman dan berfoto bersama pengantin. Anak-anak kecil berpakaian baju adat yaitu baju Bodo. Kapan lagi liburan diundang nikahan penduduk kampung. Rejeki anak soleh mah ga kemana 😁😁😁

20.30 – 23.00 : Tiduran di dermaga melihat bintang di langit.

Berkali-kali mba Rona liat bintang jatuh. Sampe malem ke 2 ini aku belum ketemu bintang jatuh. Huuuuh.😥😥😥 Tapi beberapa orang mandang ke bawah dermaga, ternyata air surut dan kita bisa lihat ikan, bulu babi dan coral laut pakai senter kayak liat kolam ikan. Cantik 😍😍😍

23.00 – 01.00 : Ngobrol bersama Juho, turis dari Finlandia yang sudah berkunjung ke Banda Neira, Alor dan terakhir Pulau Una Una. Juho telah memiliki 200 log. Dia Menceritakan pengalaman diving pagi tadi di Apollo site dengan arus kencang ke bawah. 200 bar dihabiskan dalam waktu 20 menit. Ngeriiii. Juho mengagumi keindahan bawah laut Indonesia, katanya dari semua site dive yang pernah dikunjungi, Indonesia paling bagus. Brian turis asing yang memiliki 900 log book, 500 log dia habiskan di Indonesia!

Biaya Pribadi :
Kamar di Sanctum, Pulau Una Una : Rp 285.000,-/ org/ hari, 3x makan, kamar mandi dalam.
Diving 2x : Rp 1.000.000,-

Hari 5, Senin 9 Mei 2016
Tujuan : Pulau Una Una – Pulau Malenge

06.00 : packing
06.30 : berangkat ke Pelabuhan Una Una naik boat Sanctum

cindiltravel di pulau una una 8

cindiltravel pulau una una

07.30 – 11.30 : Naik Public Boat ke Pulau Wakai Rp 25.000/ org (bayar saat sampai Pulau Wakai). Isinya penuh dengan manusia, hasil bumi dan juga motor jadi satu. Wahyu melihat ikan lumba-lumba berarakan mengikuti kapal kami. Aku sih hanya lihat ikan terbang ke sana ke mari

DCIM100GOPROG0252712.

berfoto di dalam public boat Pulau Una Una, ukuran sekoci

11.30 – 13.30 : Makan siang sambil cari kapal carteran ke Pulau Malenge.
Makan siang ikan sunu, ikan yang cukup mahal di Togean. Harganya bisa Rp 250.000/ kg.

cindiltravel ikan sunu

ikan sunu, makanan mahal di Togean

14.30 – 15.30 : perjalanan dari Pulau Wakai ke Pantai Karina dan Danau Jelly Fish dengan cuaca mendung sepanjang jalan.

15.30 – 16.00 : Berenang dengan Jelly Fish / ubur-ubur tak menyengat di Danau Mariona.

cindiltravel jelly fish togean

Awalnya aku datang hanya ada 4 orang turis asing yang berenang dan bilang kalau jelly fish ga ada. Akhirnya semua ga mau turun. Karena berenang dengan ubur-ubur tak menyengat adalah salah satu wish list-ku ke Togean, jadilah aku memutuskan berenang sendirian sampai hampir ke ujung Danau. Bayangin sendirian aja udah serem di danau yang kedalamannya ga keliatan dan air tenang tak beriak. Walaupun cuma ketemu dua jenis ubur-ubur dan tidak sebanyak di Danau Kakaban di Kalimantan tapi aku puas bisa berenang lagi dengan ubur-ubur *rasanya ga sia-sia les renang tahun lalu.

16.00 – 18.30 : perjalanan dari Danau Jelly Fish ke Pulau Malenge seharusnya 1 jam, karena hujan dan ombak besar jadi lebih lama.

Deburan ombak besar seolah mengamuk, Pak Lamin sang kapten kapal pun sudah nyaris kewalahan. Hujan dan petir bergelegar tanpa henti. Lautan luas tanpa tepi di depan kami. Mba Rona dengan sigap membantu Pak Lamin mengeluarkan air dibawah dek kapal. Aku dan Ferry memegangi barang-barang kami dan mengatur posisi duduk untuk meyeimbangkan kapal. Kalau sampai sekarang aku masih bisa menuliskan cerita ini, sungguh Tuhan masih baik!

18.30 – 19.30 : Awalnya Ferry mau ambil penginapan di Sera Beach, Malenge ternyata full. Jadilah kita kembali ke jadwal awal ke penginapan Lestari yang dekat dengan kampung Pulau Papan. Ambil kamar harga Rp 200.000/ org/ malam kamar mandi di dalam.

19.30 – 21.00 : Makan malam.

Kami bertemu Reni dan temannya yang sebelumnya pernah bertemu sebelumnya di Pulau Kadidiri. Di ruang makan bersama kami mengobrol tentang perjalanan masing-masing sambil ngegosip tentang si Bapak Mantri pemilik penginapan Lestari yang galak dan pedas kalau ngomong tapi kata mereka sebenernya perhatian. Buat kami yang habis melewati hujan badai besar, omelan Pak Mantri mah ga ada apa-apanya.

21.00 : tidur

Biaya Pribadi :
Public Boat dari Pulau Una Una ke Pulau Wakai : Rp 25.000,-/ org
Makan siang : Rp 20.000,
Beli Aqua dan minuman : Rp 20.000,-
Kamar di Lestari Malenge Rp 200.000/ org/ malam, 3 kali makan, kamar mandi dalam

Biaya Share Cost :
Carter boat Rp 700.000, Pulau Wakai – Pulau Malenge mampir beberapa spot dibgi bertiga
Contact Boat Bp. Lamin (Pulau Wakai), No HP : 081340452037

Note :
– Jadwal Public Boat Pulau Una Una ke Pulau Wakai : Senin, Rabu dan Sabtu jam 7 pagi
– Jadwal Public Boat Pulau Wakai ke Pulau Una Una : Selasa, Jumat & Minggu jam 8 pagi
– Jadwal Public Boat Pulau Wakai ke Pulau Malenge : Senin, Rabu dan Sabtu jam 14.00
– Pulau Malenge tidak ada sinyal apapun yang masuk, kecuali mau naik bukit ke Pulau Papan

Harga kamar Lestari Malenge :
– Rp 150.000/ org/ malam, 3 kali makan, kamar mandi share
– Rp 200.000/ org/ malam, 3 kali makan, kamar mandi dalam
– Rp 300.000/ org/ malam, 3 kali makan, kamar mandi dalam, view pantai dan Pulau Papan

Hari 6, Selasa 10 Mei 2016
Tujuan : Keliling Pulau Malenge

08.00 : sarapan

Pak Mantri mengenalkan kami dengan Pak Endi sang pemilik kapal yang akan menjadi kapten kapal sekaligus guide snorkeling kami. Setelah nego dengan Pak Endi, kami sepakat dengan harga Rp 500.000,- untuk keliling Reef 1 dan Reef 5.

cindiltravel pulau malenge

09.00 – 12.00 : Snorkeling ke Reef 1 atau California Reef.

Ada kantor perikanan di atas laut. Bentuknya reef-nya seperti pinnacle. Hamparan karang laut dan tebing dalam. Bertemu banyak ikan, cucut kuning, lily laut, morea laut, bintang laut biru 😍😍😍 Tempatnya cocok untuk snorkeling atau free dive. Reef 1 memang beneran WAJIB untuk didatengin.

12.00 – 13.00 : Makan siang di Penginapan Lestari. Siang hari pemandangan penginapan kayak Bora Bora!

cindiltravel pantai pulau malengecindiltravel pulau malenge togean

13.30 : Menuju Reef 5, perjalanan cukup jauh.

cindiltravel pulau togean 7

Setelah sampai ga jadi turun snorkeling karena katanya kalau mau lihat eagle ray dan kawan-kawan harus berenang sampai ke wall / tebing dalem. Tempat yang ditunjuk Pak Endi cukup jauh. Entah malesnya kumat akhirnya aku sama Mba Rona pilih main di Pantai Sera.

14.00 – 15.00 : Main di Pantai Sera.

cindiltravel pantai sera pulau malengecindiltravel di pulau togean 9

Kita balik lagi ke penginapan pertama yang dikunjungi di Pulau Malenge. Pas dateng, para turis asing lagi minum bir sambil berendem di air pantai, serius baru pertama kali liat yang begitu. Dimana-mana sih berjemur di pinggir pantai ini di tengah pantai. Klo kita mah pas diangkat badannya gosong setengah 😂;)  Aku ga percaya kalau banyak ikan, wong keliatan dasarnya pasir pantai putih dan halus. Tapi Pak Endi ngeluarin kata ampuh : Mau ngeliat anak HIU ga? Waaah aku yang penggemar hiu langsung mau! Jadilah aku snorkeling ke arah karst yang ada gua berharap ketemu hiu eeeeh malah ketemu ikan cucut, baracuda, scholing fish, sting ray warna abu totol biru ngumpet di bawah pasir yang punya bisa beracun di bagian ekor. Walaupun ga ketemu hiu tapi seneng banget lagi-lagi bisa berenang jauh.

16.00 : Sampai di Penginapan Lestari, mandi

17.00 : Trekking ke bukit menuju Pulau Papan

cindiltravel pulau papan togean 3

Kemarin kata Reni cara dari penginapan ke Pulau Papan gampang, ga usah pake guide *guide mereka 2 anak anjing malahan. Berbekal informasi itu, aku dan Mba Rona langsung naik bukit yang katanya jalan menuju Pulau Papan. Papasan sama Pak Mantri, dan dengan PD bilang mau ke Pulau Papan. Ambil jalan berbukit dan ke kanan, langsung turun eh ketemu pantai. Pulau Papan masih jauh di seberang. Berarti ga mungkin nyeberangi air laut kalau bawa kamera kayak gini. Naik lagi ke atas ketemu kuburan. Udah diputerin 2 kali kuburan ga ketemu jalannya, mau balik ke penginapan malu sama Pak Mantri. Tiba-tiba datenglah Kak Gunung (nama asli Gunawan, tapi orang tuanya panggil Gunung, nama kesayangan) bawa parang, dengan polos aku tanya mau ngapain. Ya mau anterin kalian lah! Jedeeer. Ternyata jalan dari penginapan ke Pulau Papan naik bukit, turun ke pantai 2 kali, naik bukit lagi sambil tebas ranting dan pohon liar sampe akhirnya ketemu jembatan. Kata Stephan, turis asal Jerman pernah ada turis asal Perancis yang hilang 2 hari di Pulau Malenge karena tidak ditemani guide. Untung kami keburu disusul sebelum nyasar parah T___T  Buat kami trekking ini lumayan berat dari snorkeling langsung nanjak bukit tapi ditengah air keringat yang mengalir ketemu pelangi yang bisa bikin semangat lagi.

18.00 : Mengejar sunset di Pulau Papan

Matahari mulai tenggelam. Aku, Mba Rona dan Kak Gunung berjalan cepat menyeberangi jembatan kayu yang panjang bersama anak-anak kecil Pulau Papan. Kami bergegas ke rumah Pak Guru di Pulau Papan untuk memberikan titipan dari Wahyu. Setelah titipan selesai diberikan, kami pun melanjutkan perjalanan ke bukit kapur untuk menikmati senja di Pulau Papan diiringi suara Imam di mesjid.

18.00 – 18.30 : trekking malam kembali ke penginapan Lestari
18.30 : istirahat dan main di pantai balik bukit lihat kelomang besar dan ikan terbang.
19.00 : sampai di penginapan, makan malam

20.00 – 22.00 : menuju dermaga di penginapan. Ngobrol bersama Kak Gunung, Pak Syarif, Akbar.

cindiltravel pulau malenge
Kami menikmati langit malam penuh bintang dan cahaya lampu dari Pulau Papan di seberang. Kak Gunung cerita kalau malam PLANKTON akan bersinar jika bulan tak nampak. Kami yang percaya disuruh menunggu bulan yang membentuk sabit dengan cantik tenggelam di balik bukit. Saat bulan tak nampak lagi, Kak Gunung mematikan lampu dermaga, dalam sekejap ikan-ikan berloncatan dengan riuh bergemuruh dan kami melihat gemerlapan bintang bersinar terang berwarna putih di bawah air. Aku yang baru saja mengganti softlens ke kaca mata berkali-kali bertanya, apakah benar plankton-nya bersinar-sinar dan bergoyang di bawah sana. Melihat plankton di dalam air rasanya seperti halusinasi, melihat layar hitam besar di bawah laut dengan pantulan cahaya sinar putih remang redup di sana-sini. Seperti menonton 3 dimensi menggunakan VR atau bahkan menonton bintang dari planetarium *mendadak ndesoooo. Kak Gunung berkali-kali juga tertawa mengejek aku, katanya sudah bermata empat (kacamata maksudnya) masih juga tidak bisa lihat. Haaaah. Bukan tidak bisa lihat. Tapi tak percaya bahwa di bawah laut ada banyak cahaya bintang juga. Mba Rona pun akhirnya membelaku. Malam itu kami bagaikan disinari cahaya bintang di langit dan di laut. Tinggal pilih mau menghadap atas langit atau bawah laut. Semuanya cantik, luar biasa, bagi kami orang kota yang jarang melihat bintang, ini termasuk hal langka. Kak Gunung cerita, plankton ada yang berwarna putih dan biru seperti lampu LED. Dan aku pun akhirnya melihat bintang jatuh di Pulau Malenge!

Biaya Pribadi :
Kamar di Lestari Malenge Rp 200.000/ org/ malam, 3 kali makan, kamar mandi dalam
Trekking ke Pulau Papan dan Jajan : Rp 50.000,-

Biaya Share Cost :
Carter boat Rp 500.000,- keliling pulau Malenge dibagi berdua

Apa yang bisa dilakukan di Pulau Malenge :
– Trekking ke Pulau Papan, kampung suku Bajo bayar guide Rp 50.000,-/ org
– Melihat Gua Kelelawar bayar guide Rp 50.000,-/ org
– Keliling Hutan (ditemani guide) alau mau lihat Tarsius jalan ke hutan jam 4 sore karena Tarsius keluar jam 6 sore masuk jam 6 pagi, lihat babi rusa jam 4 sore, Kepiting Ketam.
– Lihat monyet malenge (warna hitam) dari pelabuhan malenge.

Hari 7, Rabu 11 Mei 2016
Tujuan : Pulau Malenge – Pulau Kadidiri

06.00 : packing, mandi. steelah sekian lama ga pernah mandi pagi, di Malenge malah air berlimpah padahal Kak Gunung yang harus ambil air dari Pulau Malenge besar pakai perahu.

cindiltravel sunrise di pulau malenge

07.00 – 08.00 : Sarapan dan ngobrol dengan Stephan, dokter dan fotografer jurnalis asal Jerman. Stephan sudah keliling Raja Ampat untuk snorkeling dan trekking di Arfak, Manokwari. Kami awalnya tanya kenapa tidak diving di Raja Ampat. Dia bilang kenapa harus diving kalau snorkeling saja sudah indah, banyak ikan, soft dan hard coral di depan penginapan. Huaaaa… keren. Dan dia menyarankan kami untuk ke Papua Barat. Doakan yaaaa. Amiiin.

08.00 : menuju Pulau Kadidiri sewa kapal Pak Endi

11.00 : Sampai di Pulau Kadiriri.

Tanya-tanya harga kamar dan jadwal diving di Kadidiri Paradise dan Black Marlin. Akhirnya memilih kamar di Kadidiri Paradise harga Rp 350.000,-/ org/ mlm, kamar mandi dalam, view pantai sudah termasuk 3x makan, diantar ke Pulau Wakai dan diving 3x diskon Rp 50.000,-/ dive. Harga asli dive 30 € atau sekitar Rp 450.000,-/ dive

12.00 – 13.00 : makan siang
13.00 – 14.00 : Persiapan diving. Aku dan Mba Rona sudah niat diving lagi di Pulau Kadidiri.

cindiltravel persiapan diving

persiapan mau diving

Pasang alat sendiri padahal di Una Una DM-nya bule-bule baik disiapin dan dipasangin alatnya. Eh sama si Bang Pudin, DM di Kadidiri kita dikerjain suruh pasang dan setting sendiri T__T biar pinter katanyaaa. Hahaha. Kita aja males!

14.00 – 14.50 : Diving di Eden. Aku bablas ngikutin wall ke 27 meter. Udah dikodein, dipentungin masih ga denger. Dimarahin deeeeh >__<  *pemula malah bandel

15.20 – 16.00 : Diving di Taipi Wall. Kereeen ketemu gua, belajar diri di depan gua. Stabil di 18 meter. Pas naik ada pelangi. Cantiiik.

cindiltravel diving di pulau kadidiri

daripada horor nungguin kapal, mending foto-foto aja

17.00 – 18.00 : Diving di Batu Pancing.

cindiltravel togean 3

Site ini isinya pasir dan wall lihat banyak scholing fish dan laut makin gelaaaap karena udah mau sore kali ya. Terombang-ambing di lautan dengan ombak besar mandangin sunset di depan Pulau Kadidiri dan awan gelap di belakang Pulau Kadidiri sambil nunggu speed boat, rasanya sedikit horor ga ada romantisnya deh tuh sunset -___-

18.00 – 18.30 : Nunggu giliran mandi sambil ngobrol dengan Ilham dan Adis, asal Jakarta dan Banjarmasin

19.00 – 20.00 : Mandi
20.00 – 21.00 : Makan malam
21.00 – 23.00 : Ngobrol di ruang besar

Ngobrol ngalor ngidul sama Hendri asal Gorontalo – Cilacap dan Bang Pudin. Pulau Kadidiri ga ada TV jadi ga bisa nonton sinetron dan malam ini hujan deras. Maka hiburan kami yang biasanya mandang bintang di langit dan plankton di laut, kali ini mendengarkan cerita cinta Bang Pudin, layaknya sinetron berseri tanpa henti dengan penuh intrik dan deras air mata *yang nangis tentu saja bukan aku!

Biaya Pribadi :
Kamar di Kadidiri Paradise Rp 350.000/ org/ malam, 3 kali makan, kamar mandi dalam
Diving 3x : Rp 1.200.000,- (dapet diskon)
Aqua besar 2 : Rp 24.000,-

Biaya Share Cost :
Carter boat Rp 500.000,- Pulau Malenge – Pulau Kadidiri

Hari 8, Kamis 12 Mei 2016

Tujuan : Pulau Wakai – Ampana

06.00 – 07.30 : packing, mandi
07.30 – 08.30 : sarapan
08.30 – 09.00 : perjalanan Pulau Kadidiri – Pulau Wakai dengan boat Kadidiri Paradise
10.00 – 14.00 : perjalanan Pulau Wakai – Ampana via ferry KM Puspita Rp 60.000/org. Pas di ferry eh ketemu Pak Mantri, pemilik penginapan Lestari Malenge. Ternyata si Bapak juga mau ke Ampana dan sengaja nyamperin kita buat menyapa. Pas kita sampe di Ampana, Pak Mantri juga menawarkan tumpangan untuk diantar ke penginapan, sayangnya kita sudah dijemput travel. Duh si Bapak Mantri a.k.a Bapak Rudi yang terkenal galak ternyata perhatian *___* kualat deh suka ngomongin Bapak!

cindiltravel ferry togean km puspita

cindiltravel ferry togean

2 keril ditumpuk gedenya kayak 1 karung hasil bumi

14.00 – 15.00 : mampir Hotel Oasis gara-gara uang cash abis tapi masih utang bayar diving di Kadidiri Paradise, jadilah kami ke Hotel Oasis untuk transaksi pembayaran setelah ambil uang cash di ATM. Ternyata pemilik Kadidiri Paradise dan Oasis Hotel Ampana itu sama. Mba Elis, berbaik hati mengantarkan kami ke Rumah Makan untuk makan siang dan memperbolehkan kami menitip barang dan menumpang mandi di Hotel Oasis.
15.30 – 16.00 : Mampir ke Dinas Pariwisata Togean.

 

cindiltravel di pulau togean 6

berfoto bersama Bapak-Bapak dari Dinas Pariwisata Togean

Berkunjung ke kantor Dinas Pariwisata Pulau Togean di Ampana dan berfoto bersama Bapak-Bapak dari Dinas Pariwisata : Bp Anton, Bp Tasbih, dan Pak Dony, DM di Togean . Berkat buku-buku ini kami yakin bisa keliling Togean sampai ke Pulau Una Una. Kalau ada rejeki mungkin sampai ke Tanjung Keramat ya Pak (pulau yang dulu disewa oleh turis asing Mr. Lucas kebangsaan Italia, terkenal dengan 9 warna terumbu karang dan tidak sembarangan org bisa masuk karena ada polisi pengaman laut).

16.00 – 17.00 : ke Oasis Hotel, mandi, dijemput travel Togian Indah
17.00 : perjalanan Ampana ke Palu via travel

Biaya Pribadi :
Kapal Ferry : Rp 60.000,-
Makan siang ikan bakar + nasi + minuman 3 : Rp 45.000,-
Ojek RM makan – Dinas Pariwisata – Oasis Hotel : Rp 10.000,-
Travel Ampana – Palu : Rp 150.000,-

Hari 9, Jumat 13 Mei 2016

Tujuan : Palu – Jakarta

02.00 : sampai di Palu bermalam di mushola Bandara karena lupa telpon travel kalau mau numpang nginep
07.00 : dijemput saudara Mba Rona di Bandara
08.00 – 09.00 : mandi, sarapan di rumah saudara Mba Rona
09.00 – 10.00 : perjalanan Palu ke Donggala
10.00 – 11.00 : keliling Pantai Tanjung Karang & Pantai Pasir Putih

cindiltravel pantai tanjung karang donggala

cinditravel pantai pasir putih donggala

Pantai Pasir Putih, Donggala

11.00 – 12.00 : perjalanan Donggala ke Palu

 

cindiltravel jembatan palu

Jembatan Palu IV atau Jembatan Ponulele, ikon kota Palu

12.00 – 12.45 : istirahat di Masjid terapung Palu

 

cindiltravel masjid terapung palu

12.45 – 14.00 : makan siang di Kaledo, RM Heni di depan Pantai Talise.

cindiltravel kaledo palu

14.00 – 14.45 : mandi dan siap-siap pulang
15.00 : cek in di bandara
16.00 – 20.00 : flight Palu – Makassar – Jakarta

Biaya Pribadi :
Aqua : Rp 5.000,-
Makan kaledo : Rp 55.000,-
Kue Tetu Nangka : Rp 3.000,-
Kue Onde Labu : Rp 3.000,-
Minum Es Kelapa : Rp 17.000,-

Biaya Share Cost :
Bensin : Rp 300.000,- dibagi 3

 

Total Biaya Selama perjalanan
Total Biaya Pribadi Hari 1 – Hari 9 : Rp 4.484.000,-
Total Biaya Share Cost Hari 1 – Hari 9 : Rp 3.900.000,- dibagi 3 @ Rp 1.300.000,-
Total : Rp 5.784.000,-

 

Catatan selama berlibur di Togean :
– Cocokan jadwal kapal dengan jadwal kegiatan terutama jika pilihan pulau jauh dari Pulau Wakai.
– Pilihlah hari libur diluar libur long weekend, Juni, Juli, Agustus karena liburan para turis asing.
– Bawalah uang cash selama di Togean karena tidak ada ATM. Kalaupun Kadidiri Paradise dan Sanctum bisa gesek kartu kredit kadang bisa kadang gagal karena faktor sinyal dan cuaca.
– Provider HP hanya Telkomsel dan itu berfungsi hanya di Pulau Wakai, jika memang ingin booking kapal dan penginapan sebaiknya jauh-jauh hari jika musim liburan.
– Berpergian di Togean tidak harus bergrup, karena kamar dihitung perorang. Jadi sendiri tidak masalah dan juga aman.
– Kapal bisa sharing dengan orang lain (maksimal 6 org) jika berminat cari teman saat di lokasi.
– Siapkan waktu dan uang ekstra jaga-jaga jika ada cuaca buruk sehingga kapal tidak beroperasi/ kapal penuh.
– Jika mau “go show” bisa saja selama mempersiapkan waktu dan uang yang banyak jika ada halangan ditengah jalan (biasanya karena cuaca).
– Sebenarnya kami berniat untuk tinggal di rumah warga dengan budget backpacker tapi melihat kondisi dan berniat untuk diving, sepertinya tidak memungkinkan. Tapi kalau ingin hidup hemat disana bisa memilih penginapan yang murah di Pulau Wakai.

Apa yang harus dibawa selama berlibur di Togean :
– Snack, makanan kecil, pop mie. Jarang ada perkampungan disini, susah untuk mencari jajanan (bahkan di Pulau Kadidiri sarapan saja aku harus menunggu agar nasi matang).
– Bawa saus sambal / sambal terasi sachet/ abon agar tidak bosan makan ikan.
– Lampu senter berguna setiap malam dan pagi hari, apalagi yang suka kelayapan:D
– Membawa tambahan colokan listrik atau powerbank untuk kamera sangat membantu, kalau HP sih nyaris ga berfungsi di sini.
– Membawa alat snorkeling sendiri sangat disarankan, karena menyewa alat Rp 25.000,- / item.
– Obat-obat pribadi dan keperluan pribadi. Bahkan tolak angin aja susah dicari di sana.

 

Sunset di Togean bisa dilihat dari :
Pulau Bomba
Pulau Katupat : Fadillah Cottage
Pulau Malenge : Sera Beach, Sandy Bay, Malenge Indah, Bahia Tomini 1, Pondok Lestari Malenge tertutup pulau
Pulau Kadiriri tertutup karst

Sunrise di Togean bisa dilihat dari :
Pulau Una Una : Sanctum
Pulau Bolilanga : Bolilanga Indah
Pulau Malenge : Pondok Lestari

 

DCIM103GOPROG1015309.

pejalan kaki

 

Nasib pejalan ya kemana-mana angkat keril sendiri tapi yang begini kan yang bikin kita sehat kita tetep happy walau gosong dan angkut keril antar pulau 😂😂

 

cindiltravel pulau malenge togean

Selama berkeliling pulau di Togean ini aku belajar banyak hal. Bercerita dengan para Ibu dan pemuda kampung setempat bagaimana mereka bertahan hidup di tengah kesulitan akan fasilitas sehari-hari. Listrik yang hanya menyala di kala malam menggunakan genset atau solar pad, minimal untuk lampu keperluan mereka makan dan memasak. Air tanah terkadang sulit diambil dari beberapa pulau, maka para pemuda harus mengambil air bersih atau menampung air hujan untuk mandi. Anak-anak kecil harus berjuang meraih mimpi mengenyam pendidikan karena di kampung mereka hanya ada Sekolah Dasar, jika ingin lebih tinggi maka mereka harus merantau ke pulau lain. Belum lagi komunikasi telepon yang belum mereka rasakan di beberapa pulau. Mereka harus menyeberangi laut dan naik ke bukit atau hutan untuk menelepon, atau menggunakan radio orari bahkan menitipkan surat pada tukang kapal untuk memberikan kabar kepada keluarga. Hidup mereka dipertaruhkan di lautan luas. Tak jarang para ibu dan bapak yang bekerja melaut atau berkebun di pulau lain terpaksa tak pulang ke rumah karena cuaca buruk yang menerpa mereka. Betapa bersyukurnya kita yang hidup berkelimpahan sumber air dan listrik di kota.

Di balik cerita sederhana dan perjuangan para penduduk kepulauan Togean memberikan suguhan alam yang tak habis untuk dilihat, ada 90 spot diving yang tercatat dan masih banyak yang belum tereksplore. Selain itu hasil bumi seperti mutiara, cengkeh, kakao, aren, sagu dan lainnya subur di sana. Sepanjang perjalanananku mengeliling pulau aku dapat melihat pantulan awan di lautan dengan sinar matahari terik membayangi karst karst. Sungguh pemandangan cantik yang tak pernah membosankan. Kecantikan pulau Togean memang masih berbanding terbalik dengan akses menuju pulau-pulaunya yang masih sulit, tapi malah hal ini yang membuat turis asing banyak yang mendatangi pulau Togean dibandingkan turis lokal (saat aku ke Togean di hari kerja lebih banyak turis asing dibanding turis lokal). Yang aku pelajari setelah mengobrol dengan para turis asing, mereka sangat menganggumi dan menjaga alam Indonesia. Kenapa kita tidak juga ikut menjaga dan mempromosikannya ?

Karst karst sepanjang perjalanan keliling pulau pulau di Togean, konon katanya seperti ke Wayag, Raja Ampat. One of my dreams menginjakan kaki ke salah satu pulau Irian Jaya. Amiiin 🙏🙏

 

Note : cerita perjalanan per spot akan ditulis menyusul.

10 thoughts on “9 Hari Menjelajahi Pulau Togean, Sulawesi Tengah

  1. Pingback: Sulawesi : Banyak Jalan Menuju Togean | Cindiltravel

  2. Pingback: Tulisan Blog Cindiltravel | CINDILTRAVEL

    • Una Una memang jauh kok, temen aku malah ada yang kena 1,5 jt karena memang ngejar waktu dan jumlah kapal yang terbatas.

  3. Pingback: Keliling Sulawesi Selatan, gunung karst, sejarah, adat budaya, laut, kulinerCINDILTRAVEL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *