Surabaya : Belajar Sejarah Lewat Bangunan Tua

Surabaya Bangunan Bersejarah

Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena memiliki sejarah dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Kata Surabaya konon berasal dari cerita mitos pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya (buaya) dan akhirnya menjadi kota Surabaya. Surabaya jadi salah satu kota yang didiami Belanda sehingga tak heran sepanjang aku melewati jalanan di Surabaya aku melihat bangunan pemukiman dan gedung-gedung yang memiliki sentuhan arsitektur khas Eropa peninggalan kolonial Belanda. Selain itu banyak juga berdiri monumen yang dibangun untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan yang gugur.

Berikut adalah monumen dan bangunan bersejarah di kota Surabaya.

1. Tugu Pahlawan

Monumen Tugu Pahlawan Surabaya

Tugu Pahlawan merupakan monumen yang menjadi ikon Kota Surabaya. Monumen ini setinggi 41,15 meter berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia. Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.

2. Gedung Negara Grahadi

Gedung Negara Grahadi Surabaya

Gedung Negara Grahadi  gedung bergaya Roma dibangun tahun 1795 oleh arsitek Belanda Ir. W. Lemci pada masa berkuasanya Residan Dirk Van Hogendorps. Pada mulanya gedung ini menghadap ke Kalimas di sebelah utara, sehingga pada sore hari penghuninya sambil minum-minum teh dapat melihat perahu-perahu yang menelusuri kali tersebut. Perahu-perahu itu juga dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, mereka datang dan pergi dengan naik perahu. Tahun 1802 gedung ini diubah letaknya menghadap ke selatan seperti terlihat sekarang. Kini difungsikan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Timur.

 3. Monumen Bambu Runcing

Monumen Bambu Runcing Surabaya

Bambu Runcing adalah senjata tradisional yang digunakan oleh tentara Indonesia dalam pertempuran melawan kolonialisme Belanda. Monumen yang terletak di Jl. Panglima Sudirman ini memiliki 5 pilar yang dikelilingi oleh taman kecil.

4. Hotel Majapahit Oriental

Hotel Majapahit 2 Surabaya

Hotel Majapahit Surabaya

Siapa yang tidak tahu Hotel Majapahit ? Hotel yang terletak di Jl. Tunjungan dulunya bernama LMS, lalu Hotel Oranje dan kemudian Hotel Yamato dan juga Hotel Hoteru merupakan tempat insiden perobekan Bendera Belanda yang terjadi pada 19 September 1945. Peristiwa bermula ketika sekelompok orang Belanda yang dipimpin Mr. Pluegman mengibarkan bendera Merah Putih Biru di puncak sebelah kanan hotel. Para pejuang Indonesia melakukan perobekan warna biru pada bendera Belanda, yang berwarna merah, putih dan biru, dengan demikian bendera itu menjadi merah putih yaitu bendera Indonesia. Insiden bendera itu juga mengakibatkan terbunuhnya Mr. Pluegman. Dan sampai sekarang di atas hotel tetap berdiri tiang bendera Merah Putih.

 5. Kantor Gubernur Jawa Timur

Kantor Gubernur Jawa Timur

Gedung yang terletak di Jl. Pahlawan 110 memiliki jam dan lonceng pada bagian atas yang konon katanya dapat dinaiki pengunjung. Dahulu Gedung ini merupakan pusat kegiatan Pemerintah sejak zaman Hindia Belanda, Jepang dan masa Proklamasi. Gedung ini pada bulan Oktober 1945 pernah dijadikan tempat perundingan Presiden Soekarno dengan Jenderal Hawhorn untuk mendamaikan pertempuran yang terjadi antara pasukan sekutu dengan pemuda-pemuda Surabaya. Dan dari gedung inilah pada tanggal 9 November 1945 jam 23.00 wib Gubernur Suryo memutuskan menolak Ultimatum Jend. Mansergh yang berisikan agar pejuang-pejuang Surabaya menyerah tanpa syarat kepada tentara sekutu, sehingga terjadilah peristiwa pertempuran pada tanggal 10 November 1945.

 6. Bank Mandiri

Bank Mandiri Surabaya 1

Bank Mandiri Surabaya 2

Bank Mandiri yang terletak di Jl. Pahlawan dulunya adalah Gedung Lindeteves Stokvis milik perusahaan dagang Belanda. Gedung ini dibangun pada tahun 1911. Perancangnya adalah biro arsitek Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers dari Batavia (Jakarta). Setelah Belanda takluk, pada masa Kolonial Jepang, gedung ini beralih fungsi menjadi Kitahama Butai, yaitu bengkel dan gudang  untuk menyimpan peralatan  perang  dan kendaraan tempur tentara Jepang tahun 1942-1945. Pada pertempuran hebat tgl 1 Oktober 1945 antara pejuang  ‘Arek-arek Suroboyo‘ dengan pasukan tentara Jepang, pejuang Indonesia berhasil merebut gedung ini dengan mendapatkan rampasan perang berupa meriam ringan, panser dan tank.

 7. The Crown Restaurant

The Crown Restaurant Surabaya

Terletak di Jl. Pahlawan 118, menurut supir taksi yang saya naiki dulunya gedung ini adalah bekas Gedung Bioskop Surabaya.

8. Komplek Rumah Presiden Soekarno sewaktu kecil

Kampung Preseiden Soekarno di Surabaya

Info dari supir taksi, masuk ke dalam jalan itu adalah komplek rumah presiden Soekarno sewaktu kecil.

Sebenarnya sepanjang perjalananku di taksi aku melihat banyak sekali gedung-gedung tua bersejarah lainnya seperti Gedung Balai Pemuda, Monumen Suryo, Gedung Internatio, dan lain sebagainya. Dan supir taksi dengan baik menjelaskan tentang Surabaya dan sejarah bangunan. Maka tak heran jika aku dapat mengingat kembali sejarah Indonesia dari bangunan-bangunan tua di Surabaya.

0 thoughts on “Surabaya : Belajar Sejarah Lewat Bangunan Tua

  1. Bangunan The Crown Restaurant bukanlah bangunan cagar budaya karena itu bangunan baru berarsitektur kolonial. Dilihat dari kacamata arsitektur tradisional Eropa (utamanya Belanda) banyak simpang siur mengenai tata bangunannya, jadi dibilang salah kaprah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *