Aceh : Piknik ke Benteng Jepang Pulau Weh

Perjalanan menuju Benteng Jepang ternyata cukup jauh dari kota Sabang. Kami harus melewati jalan kelok delapan yang mengitari bukit. Bukannya pusing, aku malah terus tertarik pada poros putaran serta pemandangan perbukitan gersang di kanan kiri dan tak jarang aku melihat sapi dan kerbau yang kurus kering. Seharusnya saat itu bukan musim kemarau, tapi asap dari pembakaran hutan di Pulau Sumatera menyebabkan perubahan musim yang tak jelas bagi alam. Kami pun tak berdaya pada alam kali ini, tetap berjalan menuju ujung Sumatera di tanah Sabang, Aceh. Tapi toh alam semesta tetap baik pada kami, walaupun udara berasap, kami tetap bisa menikmati sisa-sisa kecantikan Pulau Weh sampai detik terakhir.

Bang Mizi sempat menunjukkan batu gajah di Pantai Anoi Hitam dari atas bukit. Berkali-kali aku memincingkan mata “kok ga ada mirip-miripnya sama gajah?” tanyaku lugu. “Mau turun tidak?” tanya Bang Mizi sopan agar aku beneran bisa lihat bentuk gajah-nya. Tobaaaaat! Melihat pasirnya Pantai Anoi Hitam yang beneran hitam rasanya aku pilih langsung ke Benteng Jepang saja.

Mobil dipinggirkan dijalanan besar dan kami lanjut berjalan kaki ke belakang warung kopi pinggir jalan dan menyusuri bukit bertangga. Tanpa tanda

ataupun tulisan “Benteng Jepang” rasanya kami akan nyasar kalau jalan sendiri ke sini.

cindiltravel benteng jepang pulau weh aceh 2

Sampailah aku ke sebuah bangunan dengan pintu kecil dan dinding melingkar dimana di dalamnya ada sebuah meriam. Benteng ini merupakan peninggalan sejarah Jepang saat mendarat di Sabang pada 12 Maret 1942 yang kemudian menjadikan Sabang sebagai basis pertahanan militer serta pusat komunikasi di Selat Malaka.

cindiltravel benteng jepang pulau weh aceh 3

Aku pun menaiki tangga dengan pohon berakar besar yang melilit habis bangunan benteng penuh sejarah ini. Ternyata di atas bukit ini aku seolah melihat kembali masa dimana para tentara mengawasi kapal musuh yang mungkin saja datang dari lautan luas di depan mata. Bagiku kini lautan lepas di depan mataku ini bukanlah musuh tapi pemandangan indah yang seharusnya disyukuri. Memandang lautan biru dengan batu karang besar serta angin sepoi-sepoi di atas bukit yang hijau menjadikannya tempat yang cocok untuk berpiknik *sayang banget aku ga bawa buku. Kami sempat protes sama Bang Mizi yang tidak mengajak kami membawa perbekalan *lagi-lagi Bang Mizi kena omel. Hehehehe dasar cewek-cewek repot. Setelah puas berkeliling mengambil gambar, kami pun duduk termenung sendiri dalam sepi dan ketenangan tanpa henti. Hembusan angin yang sejuk membuat kami betah berlama-lama di sini.

Aku pun menyendiri di ujung tebing karang dengan ketegangan gaya gravitasi yang hebat. Coba saja sendiri sensasi mengalahkan rasa takut berada di ujung tebing (tapi jangan coba-coba nyebur kalau ga punya nyali ya). Syahdu rasanya mendengarkan hempasan ombak yang pecah di bawah tebing nan curam sambil memandang indahnya gradasi laut dan Pantai Anoi Hitam di seberang sana. Aku menikmati pemandangan yang tak terganti oleh apapun saat itu. “Oiiii… jangan bunuh diri kau disana!” teriak Bang Mizi dengan logat Melayu-nya. Aaaaakh lagi-lagi Bang Mizi selalu bikin onar mengacaukan suasana hatiku. Orang lagi bersyukur malah dikira mau bunuh diri T____T

cindiltravel  jepang pulau weh aceh 6

my favorite spot!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *