Chitato Rasa Indomie Goreng. Ini Ceritaku, Apa Ceritamu?

image

Mumpung masih hangat-hangatnya nih orang pada penasaran dengan Chitato rasa Indomie Goreng, aku mau ikutan juga cerita pengalaman makan ini.

Berawal dari bocoran sang CEO, di twitter mengenai kolaborasi brand Indofood antara Chitato dengan Indomie yang notabene adalah brand sodara seperguruan, sodara sepergedungan, sodara tapi mungkin beda pabrik tapi satu pemilik, yang pasti yang ngetweet
ya pemilik (kalo bukan pemilik mana berani kasih bocoran di akun pribadi) *halah… makin ngaco nih bahasnya. Kolaborasi adalah sebuah strategi marketing menggabungkan dua merek yang memiliki asosiasi yang sama, untuk tujuan yang sama, dalam bentuk inovasi dan ekspansi produk. Nilai positif dari strategi ini adalah tentu saja konsumen melihat hal ini sebagai sesuatu yang baru, positif dan mengejutkan. Sedangkan bagi perusahaan tentu saja penghematan budget dari segi marketing komunikasi.

Ternyata bocoran alias teaser (kalo kata bahasa anak advertising alias anak periklanan) berhasil membuat penasaran para masyarakat Indonesia yang rata-rata pencinta Indomie (coba sebut siapa yang ga kenal Indomie???). Tidak hanya sukses di dunia maya dan social media tapi sebuah gambar dan tweet tersebut juga sempat menjadi topik headline beberapa media online. Jika ini memang tidak disengaja dan tidak direncanakan, hal ini sungguh merupakan viral marketing yang sukses dan patut dihitung media value-nya dan dijadikan studi kasus para calon marketing di bangku perkuliahan.

Selang beberapa minggu… berita burung ini seolah menjadi kenyataan. Gambar yang tadinya hanya milik sang CEO kini bertebaran disana-sini termasuk menghiasi timeline social media-ku. Bahkan “hasil perburuan” foto pun menjadi cerita tersendiri bagi setiap orang mulai dari cerita memborong jajanan anak kecil, menemukan kebahagiaan kecil (ternyata mudah kan cara untuk bahagia?), sampai cerita penasaran karena out of stock alias stok habis padahal udah usaha keliling nyari. Temanku sendiri cerita bahwa berita produk ada di pasaran sudah heboh sampai jadi topik pembicaraan di radio. Kalau aku jadi marketingnya… bahagia bukan main dapet slot durasi gratis di prime time, live streaming lagi! 😁😁😁

Ga sengaja tadi ke apotek untuk ambil obat, daripada bengong nungguin resep yang sedang diracik, aku pun iseng ke mini market. Kehebohan pun terjadi saat seorang datang membeli snack ringan ini, apalagi kalau bukan bertujuan untuk memborong. Satu kardus berukuran besar diturunkan oleh sang pramuniaga, sungguh ukuran sangat besar buatku, hampir sama dengan kardus isi kemeja dengan kapasitas 3 lusin. Pembeli tersebut hampir meludeskan semua isi kardus tersebut. Aku yang sedikit penasaran hanya meraup salah satu sisanya saja, Chitato Rasa Indomie Goreng berukuran besar dengan harga Rp 8000an dan kopi kemasan botol kesukaanku.

Jujur, aku sejak April 2014 sudah tidak makan lagi yang namanya Indomie dan Pop mie. Padahal buat para pejalan atau traveler atau backpacker, Indomie dan Pop mie adalah penyelamat dikala kelaparan, kemudahan diantara kerepotan dan perbekalan dikala uang menipis. Alasannya? Aku pernah trauma berat karena sakit diare sewaktu perjalanan ke Pulau Seram, Ambon. Tapi bukan berarti hanya karena faktor makanan, mungkin juga karena faktor fisik yang kelelahan berat menyebabkan aku drop.

Dari waktu ke waktu, hanya satu yang ditunggu (slogan Indomie 2005-2006), hadirnya kolaborasi brand Chitato dengan Indomie merupakan oase bagiku ditengah padang pasir yang kering. Menahan tarikan nafas dari setiap jengkal aroma Indomie yang tercium dari depan mata adalah siksaan batin. Rasanya seperti puasa tanpa henti dan tanpa akhir, menunggu bedug yang tak kunjung datang dan terdengar.

Sesampainya di apotek, aku pun tak sabar mencoba rasa kripik kentang nan masyhur baru-baru ini. Ok, ketika ku buka isinya tentu saja tetap bentuk kripik kentang seperti rasa yang lainnya. Begitu aku mulai menggigit…. Hmmm… rasanya? Kripik kentang.

Ok. Coba lagi.
Ambil lagi. Gigit lagi.
Hmmm… keripik kentang rasa agak gurih-gurih gitu.

Ok coba lagi.
Ambil lagi. Gigit lagi.
Hmmmmmm… tetep keripik kentang rasa bumbu gurih, asin.
*kok belum berasa, masih kurang kali yaaaak

Kali ini ambil sebanyak-banyaknya.
Kunyah sebanyak-banyaknya. Lagi. Lagi dan lagi.

Dan rasanya pun tak berubah.
Tetap keripik kentang.

Ternyata, aku bagai pungguk merindukan bulan. Mengharapkan sesuatu keajaiban datang, kupikir indomie berbentuk keripik kentang tapi ternyata yang datang tetap keripik kentang diberi bumbu *guling-guling di lantai 😯😑😥

Rasanya, memori kenikmatanku pada Indomie 2 tahun lalu tak bisa tergantikan dengan Chitato rasa Indomie Goreng. Tak senak dulu, tak seindah dulu, tak seharum yang ku cium tanpa perlu kupandang dan ku rindu di kala hujan datang.:'(:'(:'(

Mungkin benar kata slogannya, “Indomie seleraku” yang tak tergantikan oleh apapun. Tapi bisa jadi, selera-ku bukan selera-mu kan?

Ah sudahlah, yang penting aku sudah merasakannya. Merasakan Chitato rasa Indomie Goreng, merasakan euphoria-nya mendapatkan dan posting di social media 😂😂😂.

Ini Ceritaku, Apa Ceritamu?

3 thoughts on “Chitato Rasa Indomie Goreng. Ini Ceritaku, Apa Ceritamu?

  1. Hahaha iya itu heboh banget
    dan sementara hanya tersedia di jabodetabek dan bandung. Terpaksalah aku yang tinggal di jember ini harus sabar dulu

  2. Pingback: Tulisan Blog Cindiltravel | CINDILTRAVEL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *