Jawa Barat : Merasakan Green Canyon versi Indonesia dengan penuh perjuangan

Bisa dibilang perjalanan ini cukup dadakan banget, karena sebenernya cuma iseng-isengan aku ngomong sama adik sendiri ngajakin berpetualang ke suatu tempat yang deket-deket Jakarta. Setelah ngumpulin kuota 6 orang maka ditentukan tempat tujuannya yaitu Green Canyon di daerah Sukabumi. Konon katanya Green Canyon versi Indonesia ini memberikan sensasi body rafting dengan pemandangan alam yang hijau dan masih alami. Sepakat berangkat dari kantorku jam 10 malam, ternyata 2 orang cancel ikut karena masih ada project yang ga bisa ditinggal. Tersisalah 4 orang dengan pasukan 3 orang cewek dan 1 orang cowok, alhasil hanya adikku yang akan nyetir sepanjang perjalanan Jakarta – Sukabumi – Jakarta. Modal nekat jalan di long weekend berdampak pada jalanan macet tiada akhir sepanjang Jakarta – Cawang – Bandung, padahal ini belum setengah perjalanan!

Di Nagreg sampai Malangbong perjalanan lancar jaya dengan halang rintang tikungan yang bikin mata awas dini hari dan bus yang nyaris berjalan mundur. Selepas Ciawi, Tasikmalaya GPS mengarah ke dalam kota Ciamis. Saat waktu menunjukkan pukul 4 subuh kami sudah ada di pegunungan gelap gulita. HP yang sedari Jakarta di non aktif terpaksa aku aktifkan, cek sinyal: ternyata ga ada. Cek layar GPS di mobil, tulisan search terus. Adikku udah nanya posisi di GPS berkali-kali. Duh mulai panik nih, karena untuk mobil kelas avanza, jalanan yang kami lalui tergolong ekstrim dengan medan yang terjal, ukuran jalan sempit, bukit di kiri dan jurang di kanan. GPS menunjukkan kata “Gunung Kalong”, ekpresi aku sama adikku melongo cemas karena ga ada jalan buat putar balik. Mobil melaju perlahan dalam sabar dan harap-harap cemas akhirnya ketemu beberapa rumah penduduk, aku dan adikku tanya jalan ke Bapak-Bapak yang sedang berjaga di luar rumah. Ternyata ini memang pegunungan, ada jalur untuk ke Green Canyon tapi tidak bisa ditembus. Ya ampuuun. Ini GPS bikin jalan alternatif tapi ga ada jalurnya. Catatan buat yang mau nyetir tengah malam, jangan mengharapkan GPS atau nasib Anda akan seperti kami.

Dengan melanjutkan perjalanan panjang kota Ciamis – Banjar – Pangandaran dengan pemandangan jalan aspal – naik turun bukit – sawah – tiada henti sampe ngantuk, akhirnya secercah harapan datang dengan adanya plang Green Canyon di sisi kanan. Setelah mengikuti plang selama 30 menit mencari riakan air sungai yang kami yakini adalah Green Canyon, kami pun di sambut dengan antrian mobil dan bus yang akan parkir di areal Taman Wisata Green Canyon dan orang-orang menggunakan life jacket lalu lalang di depan kami. Setelah parkir kami bergegas ke loket penjualan ada beberapa paket yang ditawarkan mulai naik perahu dengan tarif Rp 125.000,- yang bisa diisi 6 orang selama 1 jam atau body rafting Rp 1.000.000 untuk kuota 5 orang selama 5 jam. Walaupun kami hanya ber 4 tapi si abang tetep minta 1juta karena sudah paket. Cari akal dengan ngajakin orang yang mau share, akhirnya ketemu sama 7 anak dari Jakarta, total 11 orang akhirnya berhasil nego Rp 2juta. Lumayanlah.

Karena badan pegel semua setelah ga tidur 2 hari 1 malam, kami sarapan dan tidur sebentar di tempat makan sekitar parkiran sampai akhirnya guide kami memanggil untuk pilih life jacket dan sepatu untuk body rafting. Semua HP dan barang berharga bisa dititipkan ke guide yang membawa dry bag. Berhubung aku membawa dry bag 20 liter, jadi kapasitas cukup lega diisi dengan beberapa minuman dan snack mengingat perjalanan di air selama 5 jam ke depan pasti bikin perut lapar dan haus. Setelah itu kita akan dibawa menggunakan mobil bak melewati jalanan terjal berbatu dengan kemiringan 45 derajat. Anggap saja body rafting bonus naik halilintar *gubraak

        green canyon cindiltravel 9     green canyon cindiltravel 7

Kami sampai di tempat dimana terdapat tangga terbuat dari batu alam turun menuju sebuah sungai dan gua besar yang merupakan rumah bagi para kelelawar. Ternyata aliran air di Green Canyon atau yang disebut oleh penduduk asli yaitu sungai Cijulang cukup deras dengan bebatuan yang cukup besar dan tajam *duh mikirnya udah yang aneh-aneh deh. Pertama kali mau ke air aja udah harus harus terjun dari bebatuan tinggi 50 cm. Stage pertama : Done!

green canyon cindiltravel 6

Begitu ketemu air yang dingin mulai deh berenang-berenang mengikuti arus. Berhubung kita bukan bebek yang bisa berbaris rapi di air, alhasil si guide pusing gara-gara kita selalu misah terus walupun sudah disuruh berpegangan ala Teletubis sampe pake formasi ala Panjat Pinang. Padahal kalau ada arus kencang yang berakhir di bebatuan sempit, kalau kita ga langsung minggir ke daratan bisa-bisa nasib berakhir tragis o_0 Fiuuuh.

green canyon cindiltravel 5

green canyon cindiltravel 4

Selama aliran sungai beriak senyap maka kami pun bisa mengambang di air dengan santai menikmati pemandangan alam kiri kanan bebatuan dan pohon-pohon yang rimbun. Belum lagi cahaya matahari sore yang turun ke aliran sungai dan pepohonan. Duh cantik banget!

green canyon cindiltravel 1

Tapi kalau harus berenang melewati arus deras, berlari di bebatuan terjal dan tanjakan maut yang membutuhkan konsentrasi penuh saat melangkah belum lagi harus loncat dari batu setinggi 3 meter tiba-tiba berasa ikutan kompetisi Triathlon yang penuh perjuangan untuk mencapai garis finish. Capek *_*

green canyon cindiltravel 8

Tapi sepanjang mengarungi sungai ini selalu penuh pemandangan dan kejutan yang tak terduga. Mulai dari pemadangan stalaktif dan stalakmit berukuran sangat besar di sisi sungai yang harus kita lewati. Sebenarnya pemandangannya indah, tapi licinnya bukan main. Aku aja sampe jatuh kepleset, untungnya jatuh langsung ke air.

green canyon cindiltravel 3

Capek mengarungi sungai tiada henti ? Ga usah khawatir, ternyata di tengah perjalanan ini ada sebuah tempat istirahat di pinggir sungai untuk menikmati secangkir air teh atau kopi panas dengan gelas dari bambu dan gorengan yang masih hangat dari penggorengan. Kalau ga bawa uang saat berenang pun kita masih bisa kasbon alias ngutang, asal jangan lupa bayar. Jangan ditanya bagaimana cara membawa bahan makanan ini ke sini. Sang pemasok bahan makanan akan mengirimkan barang menggunakan keranjang melalui tali yang dikaitkan dari pohon di ujung sisi sungai ke pohon tempat kami istirahat, dimana sang penjual sudah menyiapkan alat masak. Juara! Beruntung aku bawa dry bag 20 liter full makanan, yang akhirnya langsung ludes tanpa sisa oleh 11 orang yang sedang kelaparan sehabis latihan Triathlon.

Pada akhirnya kami sampai di mulut Green Canyon dimana warna airnya biru tosca, berarus kencang dan dingin. Berhubung kaki sudah pegal mengarungi sungai selama 5 jam rasanya udah ga sanggup lagi harus naik dinding licin setinggi 7 meter. Aku skip aja loncat dari batu 7 meter. Tapi jujur itu cukup menantang bagi yang mau uji nyali *berenang aja belum khatam, mana berani aku loncat. Mending aku berenang sambil menunggu perahu datang menjemput kami kembali ke dermaga.

green canyon cindiltravel 2

Sesampainya di dermaga, kami langsung mandi dan tak sabar untuk makan malam yang memang sudah disediakan dalam paket. Dan akhirnya kami harus berpisah dengan teman-teman baru kami. Ini pengalaman pertama bagiku mencoba body rafting selama 5 jam penuh dengan pemadangan alam yang hijau menyegarkan disertai halang rintang. Green Canyon bisa dibilang wisata air paket dengan olah raga, sayangnya berat badan belum turun banyak J. Setidaknya di Green Canyon ini aku pernah mencoba loncat dari batu setinggi 3 meter walaupun harus jatuh sesekali. Stage done!

7 thoughts on “Jawa Barat : Merasakan Green Canyon versi Indonesia dengan penuh perjuangan

  1. Pingback: Tulisan Blog Cindiltravel | CINDILTRAVEL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *