Jalan-jalan ke Masjid Raya Medan

Selain suka jalan-jalan, aku suka juga pada arsitektur. Biasanya aku lebih tertarik melihat arsitektur bergaya klasik atau etnik. Berada di dalam bangunan bergaya klasik rasanya seperti memutar waktu kembali masa di mana bangunan itu dibuat. Selain arsitektur, aku  juga mempelajari beberapa tata kota di Indonesia, dimana pusat pemerintahan dan tempat ibadah berada di pusat kota dan berdekatan dengan alun-alun kota yang sering menjadi pusat kegiatan para masyarakat lokal. Biasanya saat berkunjung ke suatu kota, aku juga menyempatkan diri untuk mampir ke masjid dekat alun-alun atau yang biasa disebut masyarakat sebagai Masjid Raya. Walaupun tidak ikut beribadah, tapi aku sering menjadwalkannya agar teman-teman yang lain dapat menjalankan ibadahnya. Saat teman-teman menjalankan ibadahnya di dalam masjid, biasanya aku berkeliling area masjid dan melanjutkan istirahat.

cindiltravel_masjid raya medan_2

suasana magrib di Masjid Raya Al-Mashun, Medan

Saat berkunjung ke Medan, Sumatera Utara, beruntung saat menjelang ibadah shalat magrib, aku bisa mampir ke Masjid Raya Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan Masjid Raya Medan. Para wanita dan pria berpakaian rapi dan bersih bergegas memasuki gerbang Masjid Raya Al-Mashun Medan yang merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan Sulthan Deli dan masih dipergunakan oleh masyarakat muslim untuk sholat seriap hari sampai dengan saat ini. Masjid Raya Al-Mashun yang jaraknya tidak jauh dari Istana Maimoen ini dibangun pada tahun 1906 oleh Sulthan Ma’moen Al-Rasjid Perkasa Alamsyah dan dipergunakan pertama kalinya pada 19 September 1909.

cindiltravel_masjid raya medan_9

Masjid yang didesain oleh arsitek kebangsaan Belanda yaitu Van Erp yang juga merancang istana Maimoen (hebat ya… kerjanya arsitek yang mempelajari seluruh arti simbol dan makna seluruh agama untuk membangun desain bangunan ibadah) yang kemudian pembangunannya dilanjutkan oleh JA Tingeman. Area Masjid Raya Medan ini terdiri atas 4 bangunan, yaitu gerbang pintu masuk, tempat wudhu, bangunan utama untuk shalat, dan menara.

Saat keliling area masjid pada bagian belakang kita akan melihat beberapa nisan di area taman. Jujur, kalau kelilingnya pas magrib sih rada horor. Untungnya keliling rame-rame, jadi merindingnya juga rame-rame x__x Desain Masjid Raya Medan merupakan percampuran antara gaya bangunan Maroko, Eropa, Melayu dan Timur Tengah. Kubah berwarna hitam mengambil gaya arsitektur dari Turki. Kolom-kolom penyangga bercorak Moorish dan Arabesque.

Yang paling aku suka dari bangunan Masjid ini adalah konsep jendela dengan ukuran besar dan tinggi terbuat dari kayu dipadukan sentuhan kaca patri. Sebagai penganggum konsep arsitektur bergaya klasik, kaca patri menjadi salah satu elemen favorit-ku selain kayu. Bagiku, kaca patri adalah seni penggabungan kaca berwarna-warni yang menghiasi jendela dan memantulkan sinar matahari seolah melihat cahaya menari-nari. Selama ini kaca patri identik dengan ciri khas elemen arsitektur dalam gereja eropa untuk menyampaikan cerita dan simbol alkitab agar dapat dicerna dengan lebih mudah dan bentuk yang indah. Selain itu, fungsi kaca patri dapat membuat suasana tenang dan damai. Kalau bahasa-ku sih lebih melo(drama) gitu. Maka tak heran kalau sekarang kaca patri juga menjadi salah satu bagian dari arsitektur pada bangunan masjid.

cindiltravel_masjid raya medan_3

0 thoughts on “Jalan-jalan ke Masjid Raya Medan

  1. Pingback: Medan : Menjadi Puteri Raja Deli di Istana Maimun | Cindiltravel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *