7 Hari Keliling Maluku – Ambon dari Pantai sampai Hutan

Once you have traveled, the voyage never ends, but is played out over and over again in the quietest chambers. The mind can never break off from the journey” ― Pat Conroy.

 

Menuliskan cerita perjalananku ke Ambon rasanya akan seperti memutar kembali di masa pertama kali aku memberanikan diri untuk menjelajah ke ujung negeri ini bersama orang-orang baru. Perjalananku saat itu mengenalkan aku pada sebuah skenario yang bisa saja berubah setiap saat dalam perjalanan. Jika dibandingkan sekarang, pada tahun 2014 masih belum banyak orang yang melakukan perjalanan dengan biaya murah ke Pulau Seram, Ambon.

Berbekal penawaran share cost perjalanan ke Ambon dan Ora Beach di Pulau Seram di sebuah website para pelancong Indonesia, jadilah aku tertarik mencoba sekali-sekalinya perjalanan jauh dengan orang-orang baru. Maka pengalaman ini yang akan aku ceritakan kembali untuk dikenang dan dibagi. Maaf-maaf kalau ceritanya bakalan panjang kayak bikin diary 😂😂😂

 cindiltravel peta amboncindiltravel peta kota ambon

Hari ke 1 – 14 April 2014

07.00 :  Pertemuan pertama kami di Bandara Pattimura Ambon. Walaupun wajah tak kami kenali satu persatu, tapi kan ada handphone. Jadilah kami ber10 (Aku, Mba Rini, Pandu, Mas Nuel, Mba Rona, Chrizt, Lusi, Fika, Dita dan Nadia) berjabatan tangan, berkenalan dan berpetualang bersama!

09.30 : menuju homestay di seberang Pantai Natsepa.

11.00 : Berhubung laper, kami mencari makan di warteg murah meriah pinggir jalan dekat pasar di area kota (tips cari makanan murah kalau ga kenal area). Ternyata makan di Ambon, nasi putihnya itu nasi kuning dan harga menu nasi pakai ikan jauh lebih murah (Rp 7.000) dibanding menu nasi pakai Telur & Tempe (Rp 14.000)*sedih bagi penggila tempe sepertiku. Karena berniat piknik kami mampir ke Ambon City Center (Mall yang mirip hanggar, isinya kosong) untuk belanja minum dan snack.

cindiltravel pantai liang ambon

14.00 – 16.00 :  Kami pun menuju Pantai Liang yang berada di sudut kota Ambon. Hari Senin, jam kerja, tentu saja pantai ini sepi tanpa penghuni. 😍😍😍 Bahagia rasanya hari pertama di Ambon disambut pemandangan pasir putih, laut biru gradasi dan pemandangan gunung di seberang sana. Kami berfoto sepuasnya, duduk-tidur-tertawa sesukanya, berenang dan berjalan sekuatnya.

17.00 – 19.00 : Kembali ke penginapan, di saat yang lain pada jalan ke Pantai Natsepa aku malah tidur pules di kamar. Jetlag setelah bertempur (lembur) dengan tumpukan kerjaan sebelum cuti.

19.00 WIT : Ternyata makan malam di area penginapan adanya Warung Solo yang menjual nasi goreng, bakso dan mie. Setelah kenyang kami melanjutkan menikmat malam dengan rujak khas Ambon, yang penuh kacang dimana-mana. Rujak dan buah bisa dibilang menu wajib warga lokal saat di pantai. Jangan heran kalau ada orang makan duren di pinggir pantai di Ambon. Malam ditutup dengan rapat pleno pertama membahas acara dan perkiraan biaya selanjutnya. Beruntunglah Indonesia mengajarkan musyawarah dan mufakat sehingga keputusan 10 orang baru ini diambil secara demokratis tanpa drama di hari pertama. Ceileeeeh 😁😁😁

Biaya Hari ke 1 :
Sewa angkutan umum keliling Ambon Rp 400.000 : 10 org = @ Rp 40.000,-
Sewa kamar di Pantai Natsepa : Rp 450.000 : 4org = @ Rp 112.500,-
Biaya Masuk Pantai Liang : Rp 35.000 : 10 org = @ Rp 3.500,-
Total Biaya Hari ke 1 : Rp 156.000,-

cindiltravel peta pulau seram ora beach

Hari ke 2 – 15 April 2014

06.30 : Ternyata pagi-pagi alarm alamku berbunyi tanpa henti alias diare. Duh, hari ke-2 di kota orang malah langsung drop 😥😥😥. Untungnya ada beberapa obat aku bawa, jadilah aku tetap melanjutkan perjalanan.

cindiltravel Pelabuhan Tulehu Ambon

cindiltravel fast boat Pelabuhan Tulehu Ambon

08.00 : Naik Fast Boat di Pelabuhan Tulehu. Saat perjalanan dalam fast boat ini masih banyak penjual keliling, dari jual minuman, makanan sampai jasa kepang rambut! Loh jadi berasa di Bali x__x

11.00 – 15.30 : Sampai di Pelabuhan Amahai, Pulau Seram, kami dijemput mobil yang sudah kami booking kemudian makan siang di kota Masohi. Aku sempat berkeliling mencari apotek untuk membeli obat diare, menyusuri jalanan aspal mulus dan besar membelah pusat kota yang terbilang rapi. Pemandangan menarik di kota sepi ini adalah tebing bertulisan MASOHI berukuran besar (ala Hollywood) yang dapat dilihat dari kejauhan. Mobil Innova dengan plat L (Surabaya) yang sudah dimodifikasi subwoofer menggelegar (khas mobil luar Pulau Jawa) ternyata selain berfungsi sebagai audio juga sekaligus menggetarkan hati yang harus melewati kelokan tajam sepanjang perjalanan Masohi menuju Desa Saka selama dua jam lebih.

cindiltravel tebing karst pulau seram

15.30 : Sampai di Desa Saka kami disambut Bang Dino yang sudah siap dengan long boat, kapasitas 20 orang ke Desa Sawai. Lagi-lagi kami dibuat takjub dengan pemandangan hutan tropis, gugusan gunung kawasan Taman Nasional Manusela dan tebing-tebing Sawai yang menjulang tinggi mengiringi perjalanan menyusuri lautan luas. Walaupun kabut turun, langit mulai gelap, perahu tanpa atap, dan diare belum beranjak, tapi aku tetap semangat!

cindiltravel Lisar Bahari Sawai

16.00 : Pak Ali, pemilik Penginapan Lisar Bahari Desa Sawai dengan ramah menyambut kedatangan kami dan menyiapkan 1 homestay apung (di atas air) buat kami. Walaupun 1 kamar bisa diisi 2 orang, tetapi selama menginap di sana yang dihitung adalah biaya per-kepala/ orang karena paket yang ditawarkan termasuk 3x makan sehari.

cindiltravel desa sawai pulau seram maluku 2

16.00 – 21.00 : Sepanjang sore dan malam, tanpa henti teman-teman tertawa bahagia, menikmati makanan yang disiapkan, senja yang turun dengan cantik, berenang dan snorkeling di depan kamar yang tinggal loncat *beniiing banget airnya, terumbu karang sehat, banyak biota laut. Setelah makan malam kami berkeliling kampung mencari jajanan tapi ternyata nihil karena yang dijual malah dodol duren o__O

Biaya Hari ke 2 :
Naik angkutan dari Natsepa menuju Pelabuhan Tulehu Rp 5.000,-
Naik Fast Boat Pelabuhan Tulehu Rp 110.000,-
Sewa Mobil Pelabuhan Amahai ke Desa Saka : Rp 600.000 : 5 org = @ Rp 120.000,-
Long Boat Desa Saka ke Desa Sawai Rp 350.000  : 10 org = @ Rp 35.000,-
Total Biaya Hari ke 2 : Rp 270.000,-

cindiltravel desa sawai pulau seram maluku

Hari ke 3 – 16 April 2014

07.00 : Sarapan pagi ini keadaanku tidak semakin baik, badan tetap lemas tak berdaya walaupun udah dipijit semalaman. Tapi karena ga mau ditinggal sendiri aku pun tetap ikut agenda snorkeling hari ini.

cindiltravel ambon pulau seram 2

08.00 – 12.00 : Di saat yang lain pada snorkeling kegirangan ngeliat biota laut, cuma aku sendirian yang berjemur di atas long boat tanpa atap!

cindiltravel Pulau Lorsaolat Seram Ambon

12.00 : Makan siang di Pulau Lorsaolat tanpa penghuni. Pasirnya putih halus. Kejadian yang paling seru adalah pas lagi semangat makan, eh ada ular laut lagi melingker di dalam semak sebelah. Kita semua langsung bubar jalan minta ular-nya dibalikin ke laut baru berani lanjutin makan siang *anak laut takut ular laut T__T

cindiltravel laut seram maluku

13.00 : Drama baru di mulai, perjalanan yang harusnya keliling pulau lain terpaksa batal karena kami terkena hujan badai di tengah lautan. Langit gelap, ombak besar, perahu tanpa atap! Ketegangan dan ketakutan datang jadi satu. Kami semua diam berjamaah dan tanpa aba-aba bergotong royong menyiduk air hujan yang masuk ke long boat.

cindiltravel sungai salawai pulau seram maluku

14.00 : Setelah drama hujan badai selesai, kami menyusuri Sungai Salawai dengan muka yang mulai tersenyum. Tak lama berselang ketenangan sungai membuat kami kembali waswas, karena kata Bang Dino kadang ada buaya. Yo olloh, terpaksalah sepanjang perjalanan mata kami mencari si mata buaya! Ternyata buaya yang dicari adalah bapak-bapak pembuat sagu dipinggir sungai. Pertanyaan pertama ketika ketemu si Bapak bukan cara membuat sagu tapi malah : udah sering ketemu buaya Pak? *sering!

cindiltravel pembuat sagu ambon

15.00 – 17.00 : Awalnya kami berharap masih bisa kembali ke Pulau lainnya menikmati kopi dan kacang kenari. Sayangnya hujan tak jua berhenti jadilah agenda selanjutnya berenang di Tebing Hatupia. Di saat yang lain loncat dari tebing menantang adrenalin (padahal sih biar dapet foto bagus) aku dan yang lainnya menggigil kedinginan di balai pengawas laut, yang sengaja di didirikan di atas lautan untuk mengawasi biota dan fauna kawasan Taman Nasional Manusela.

cindiltravel durian ambon

17.00 – 19.00 : Puas bermain air seharian, makan malam hari ini ditutup dengan menu Durian Desa Sawai makan sepuasnya sampe nyerah.

Biaya Hari ke 3 :
Wisata Air 1 harian : Rp 750.000 : 10 org = @ Rp 75.000,-
Total Biaya Hari ke 3 : Rp 75.000,-

Hari ke 4 – 17 April 2014

07.00 : Selesai sarapan kami menuju Ora Beach Resort yang terkenal indah (dan mahal). Ketika kita sampai sepertinya lebih cocok buat yang honeymoon dibanding kita yang beririt-irit *foto-foto di dalam resort dan mundur teratur ;D

cindiltravel ora beach ambon seram 2

09.00 : Katanya trekking ke (hutan) kawasan Taman Nasional Manusela dan Goa cukup jauh dan berat, aku yang masih sakit akhirnya memilih ga ikutan daripada nanti malah nyusahin nyari toilet di tengah hutan. Tapi ternyata cerita berat trekking-nya masih ada cerita makan durian (lagi) di tengah jalan.

12.00 : Aku janjian ketemu di pos ranger Taman Nasional Manusela di jam makan siang.

cindiltravel burung nuri pulau seram maluku

13.00 : Beberapa teman berniat untuk naik ke rumah pohon yang tingginya 40 meter, ditarik pake tali sama 10 orang buat sampe ke atas canopy. Duh mikir keras deh, apalagi harganya ga murah (Rp 1.500.000,-/ org, semakin banyak org semakin murah). Di saat yang lain naik rumah pohon, aku dan beberapa teman jaga pos ranger dan ngeliat burung-burung nuri, kakatua yang sedang direhabilitasi dalam sangkar. Oh ya, kita ga boleh ngomong sama burung agar mereka menjadi habitat alami sebenarnya (tidak berbicara). Dan ternyata Pulau Seram merupakan pulau dengan populasi burung endemik terbanyak menurut Birdlife International.

cindiltravel Lisar Bahari Sawai 2

15.00 – 17.00 Kembali ke penginapan dan berenang di depan kamar (lagi).

19.00 : Makan malam hari terakhir di Desa Sawai ditutup dengan dengan menu Papeda. Kami sempat bertemu dengan Pak Ridwan, seorang dosen dari Universitas Pattimura, Ambon yang sedang pertukaran berjaga ujian nasional di sekolah dasar Desa Sawai. Duh sungguh mulia tugas dosen dan guru di pedalaman ya! Ternyata Pak Ridwan satu alumni kampus denganku di tanah Jawa dan kami berasa satu nasib jadi perantau jauh 😀 😀 😀

Biaya Hari ke 4 :
Sewa Boat ke Ora Beach : Rp 250.000 : 10 org = @ Rp  25.000,-
Naik Ojek dari Hutan Manusela ke Penginapan = @ Rp  25.000,-
Ekowisata tour Rp 250.000 : 10 org = @ Rp  25.000,-
Penginapan 3 malam = Rp 250.000,- x 3 hari = Rp 750.000,-
Total Biaya Hari ke 4 : Rp 825.000,-

Contact Pak Ali, penginapan Lisar Bahari No HP 082111181137

cindiltravel peta pulau seram ora beach ambon

Hari ke 5 – 18 April 2014

07.00 : Sarapan, packing, menuju Desa Saka

11.00 : Tiba di Masohi dan ternyata masih ada drama babak baru. Kapal di Pelabuhan Amahai tidak beroperasi karena perayaan Jumat Agung, ABK yang bertugas hari ini semuanya pas yang beragama Kristen jadi diliburkan untuk menghormati (baru tahu, ternyata ABK 1 kapal 1 agama semua). Jadilah kami mencari jalan lain menuju kota Ambon melalui Pelabuhan Waipirit. Walupun jalannya rusak dan kami harus menambah sewa mobil jauh lebih mahal karena jaraknya menjauhi Masohi tapi ini pilihan terbaik daripada kami harus menginap . 1 mobil berasa kebelet pipis, akhirnya minggir ke pantai, lagi konsen mau ngumpet eh malah ada yang piknik makan duren di pinggir pantai. Gagal pipis malah makan kenari yang berhamburan di semak-semak. Hahahaha.

16.00 – 19.00 : Pelabuhan Waipirit menuju Pantai Liang, Ambon.

19.00 : Begitu sampai di Ambon kita bingung di dalam angkutan umum, karena ga tau mau menuju kemana. Hahahaha. Rapat pleno di dalam angkot ini adalah hal paling absurd, karena ada seorang Ibu dan supir angkot yang ikut urun suara. Sambil nunggu angkotnya jalan, akhirnya kita SMS Pak Ridwan, dosen yang kita temui di Desa Sawai minta info hotel harga murah meriah di kota. Berbekal info Pak Ridwan, kita akhirnya disuruh turun di Gong Perdamaian, kota Ambon. Kecuali Fika yang melanjutkan perjalanan ke tempat lain untuk diving.

21.00 : Ternyata jarak Pantai Liang ke kota cukup jauh. Pas turun Gong Perdamaian, Pak Ridwan sudah menunggu dan menyambut kita semua untuk menuju penginapan. Sorak bahagia, akhirnya ga jadi anak ilang manggul carrier ditengah kota 😀 😀 😀 Kita menginap di Victoria Guest House, Jln. Slamet Rijadi No. 2 seberang kantor Gubernur Ambon. Penampakan hotelnya kayak ruko, tapi cukup bersih dan nyaman, lengkap AC, kamar mandi dalam, hot water, TV, sarapan. Yang paling lucu adalah semakin tinggi lantainya, semakin murah harganya. Jadilah kita berebutan pilih lantai 4 walaupun naiknya pake tangga.

22.00 : Usai berebutan kamar paling murah, kita pergi makan malam ke warung Jawa Timur dekat Mesjid Raya Ambon. Akhirnya ketemu menu Jawa di Pulau Ambon *nikmaaat. Dan Pak Dosen berbaik hati mentraktir 9 anak hilang arah ini *rejeki anak soleha mah ga kemana.

cindiltravel ambon kota

23.00 – 24.00 : Rapat pleno dimulai di lobby penginapan. Diputuskan bahwa besok akan keliling kota ditemani Pak Dosen dengan carter angkot pinggir jalan. Setelah rapat selesai kita mau nyoba minum kopi Ambon dan makan kenari di Kedai Kopi Sibu-sibu yang katanya terkenal. Modal naik angkot ternyata pas sampai, kedai kopi tutup karena hari Jumat Agung. Mau balik ke penginapan udah ga ada angkot lewat terpaksa kita jalan kaki muter-muter keliling kota sampe pegel, inget-inget jalan pulang gara-gara ga ada yang bawa HP jadi ga bisa liat peta. Dan ternyata jarak Kedai Kopi sama penginapan itu deket, cuma kita aja muter-muter nyari ATM, liat oleh-oleh jadi ga sampe-sampe T__T tapi jalan kaki tengah malem di kota Ambon aman kok.

Biaya Hari ke 5 :
Long Boat dari Desa Sawai ke Desa Saka Rp 350.000 : 10 org = @ Rp 35.000,-
Sewa Mobil Desa Saka ke Masohi Rp 600.000 : 5 org = @ Rp 120.000,-
Sewa Mobil Masohi ke Pelabuhan Waipirit Rp 800.000 : 5 org = @ Rp 160.000,-
Ferry Pelabuhan Waipirit ke Liang @ Rp 13.500,-
Sewa Angkutan dari Liang ke Kota Ambon Rp 220.000 : 10 org = @ Rp 22.000,-
Victoria Guest House Rp 180.000 : 2 org = @ Rp 90.000,-
Naik angkutan dari penginapan ke Kedai Kopi Sibu-sibu = @ Rp 2.000,-
Total Biaya Hari ke 5 : Rp 442.500,-

cindiltravel peta wisata ambon

Hari ke 6 – 19 April 2014

cindiltravel Martha Christina Tiahahu Ambon

09.00 : Monumen Patung Martha Christina Tiahahu, pahlawan wanita yang sangat terkenal di Ambon di Karang Panjang. Disini kita juga bisa melihat Teluk Ambon dari atas, cantiiiiik 😍😍😍

cindiltravel kue ambon

12.00 : Lagi-lagi dapet kejutan dari Pak Dosen, kita diajakin datang ke nikahan saudaranya. Selalu ngebayangin gimana rasanya kalau dateng ke acara nikahan (kondangan), kita ga kenal orangnya, cuma niat numpang makan gratis. Dan akhirnya kesampean juga, ga kenal, baju seadanya (pakai celana pendek), naik angkot, makan gratis, khayalan jadi kenyataan!

cindiltravel morea ambon

13.00 : Lihat Morea semacam belut berukuran besar di Air Waiselaka, Desa Waai.

cindiltravel benteng amsterdam ambon

14.00 : Mengunjungi Benteng Amsterdam dekat Hila dan Kaitetu. Bangunan 3 lantai ini digunakan sebagai pos pemantau musuh. Dari benteng ini kita bisa melihat Pulau Buru dan lautan luas.

cindiltravel pantai pintu kota ambon

16.00 : Pantai Pintu Kota, icon pantai dengan batu bolong

18.00 : Belanja oleh-oleh di daerah Masjid Raya Ambon ada mutiara, minyak kayu putih, bagea, kacang kenari, kain, madu, dari harga murah sampai mahaaaal.

19.00 : Makan malam dilanjutkan dengan perhitungan harta gono gini, karena besok sudah harus kembali ke masing-masing kota.

Biaya Hari ke 6 :
Sewa angkutan umum keliling kota Rp 400.000 : 9 org = @ Rp 44.444,-
Biaya Masuk daerah Liang Rp 15.000 : 9 org = @ Rp 1.667,-
Biaya Guide Morea (suka rela) Rp 55.000 : 9 org = @ Rp 6.111,-
Kotak amal morea (suka rela) Rp 20.000 : 9 org = @ Rp 2.222,-
Biaya lain-lain makan bersama Rp 76.000 : 9 org = @ Rp 8.444,-
Biaya masuk Benteng Amsterdam  Rp 50.000 : 9 org = @ Rp 5.556,-
Victoria Guest House Rp 180.000 : 2 org = @ Rp 90.000,-
Total Biaya Hari ke 6 : Rp 158.444,-

 

Hari ke 7 – 20 April 2014

cindiltravel Gong Perdamaian Ambon

08.00 – 12.00 : Berhubung yang lain udah pada berangkat subuh ke Bandara, sedangkan aku dan Mba Rini flight sore jadilah kita jalan kaki ke Gong Perdamaian, Monument Pattimura di Lapangan Merdeka, Alun-alun Kota Ambon dan makan siang di Pasar dekat kantor Gubernur *paling suka keliling Pasar 😁😁😁

Biaya Hari ke 7 :
Makan siang di Pasar = Rp 25.000,-
Naik DAMRI dari Penginapan ke Bandara Pattimura = Rp 25.000,-
Total Biaya Hari ke 7 : Rp 50.000,-

Total Biaya Hari ke 1 s/d Hari ke 7 = Rp 1.976.944,- diluar tiket pesawat dan makan pribadi (makan disana maksimal Rp 20.000,- tapi aku jarang makan juga).

Langit yang cerah, laut yang berwarna biru gradasi dikelilingi pulau, gunung dan tebing yang indah, hutan dan laut yang kaya akan flora dan fauna membuat Maluku menyajikan panorama alam, sejarah, budaya dan adat yang luar biasa. Walaupun banyak masalah yang dihadapi selama perjalanan tapi Maluku dan Pulau Seram justru jauh dari kata menakutkan. Mereka memperlihatkan keramahannya lewat kebaikan para warganya kepada kami para musafir.

Mungkin cerita ini terlalu panjang buat ditulis, tapi 7 hari pengalaman pertama bersama dengan orang-orang baru di tempat baru sungguh suatu cerita yang tak terlupakan. Belum lagi keadaanku 4 hari sakit ditengah perjalanan, rasanya menyiksa luar biasa. Niat liburan tapi malah sakit. Untungnya teman seperjalanan bagaikan keluarga yang selalu membantu walaupun kami tetap mandiri mengangkat carrier sendiri-sendiri. Nyatanya pengalaman pertama ini menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan dan mungkin sebuah candu bagiku untuk melakukan perjalanan secara mandiri selanjutnya.

 

Yakinlah pada perjalananmu,
maka semesta akan mendukung dengan caranya sendiri. 🙏🙏🙏

 

PS. Foto-foto diambil dari kamera rame-rame

kami sang musafir

kami sang musafir

15 thoughts on “7 Hari Keliling Maluku – Ambon dari Pantai sampai Hutan

    • hai yudi, coba rute alternatif atau tiket promo. Kalau niat pasti ada jalannya. Jangan putus semangat 🙂

    • Hai Mba Endah,
      Sudah pernah ke Ambon dulu pasti jauh lebih alami dibanding sekarang, mungkin lebih dasyat pengalamannya dibanding ceritaku!
      Iya, kalau share cost rame2 pasti jauh lebih murah 🙂
      Semoga tercapai cita-citanya untuk ke sana lagi ya.

  1. Huaaa. lengkap banget mas.. aku ijin save page ini yaa. lagi pengen banget k maluku lagi. btw pantai maluku cakep2. aku udah pernah ke Kei kecil dan Aru sih.. hihi. monggo kalau mau tukar informasi.. ada d blog saya 🙂 berkenan untuk mampir

  2. Udh dalam bucket list sih ke ambon ini, cuma memang blm nemu waktu dan tiket promo yg pas :D… aku planning k timorleste thn depen..lg mikirin apa bisa sekalian dipepetin ke ambon gitu yaa :D.. mumpung sempet jelajah bagian timur..

    btw mba, kalo ular laut bukannya berbisa yaaa..aku juga pasti takut bgt kalo nemu itu ;p

    • Hai Mba Fanny,

      Wah klo Ambon kadang untung-untungan sih Mba, klo waktu banyak bisa lewat Kupang – Timor Leste – Ambon… Duh seru banget klo bisa begitu.

      Ular laut memang berbisa, tapi sebenarnya kalau kita ga ganggu mereka ga akan ganggu juga, tapi kita malah ngusir mereka karena ketakutan ya kan judulnya ngeganggu mereka 😛 😛 😛

    • wah yang ga enak jangan diinget kak, cuma bikin sesak di dada *udah kayak cerita sakit hati karena cinta 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *