Bali: 3P Dari Pantai, Puncak Hingga Pasar

Liburan ke Bali kali ini aku jalan bareng keluarga, bersama orang tua, keluarga kakak (plus 3 anak kecil), dan adik, total kami berjumlah 9 orang. Kami berangkat hari Kamis, 15 Nov  2012 yang bertepatan dengan hari libur nasional dan bisa dibayangkan terminal keberangkatan di bandara ramai kayak Lebaran. Begitu juga saat sampai di Bali. Mulai dari turis lokal sampe luar yang backpacker-an. Aku suka melihat turis yang datang ke Bali bawaannya mulai dari tas backpack yang digendong depan dan belakang (ga kebayang berat beban yang harus dibawa setiap jalan), turis yang niat membawa papan surfing sendiri sampai turis lokal yang bawa sepeda (pakai tas / kardus) jadi kepikiran ke Bali bawa sepeda :D.

Melihat banyaknya turis yang datang, kami sempat takut hotel penuh. Beruntung kami masih mendapatkan kamar hotel di daerah Kuta dengan harga lumayan murah.  Tips saat ke hotel daerah Kuta jangan booking jauh-jauh hari, karena rate harga akan lebih murah kalau datang langsung. Malam ini kami memilih makan malam di restoran di daerah Denpasar dengan menu makanan khas Bali yaitu ayam dan bebek betutu, jukub urap (terbuat dari sayur-mayur seperti urap jawa yang direbus sebentar kemudian dicampur dengan kelapa dan bumbu spesial khas Bali yang mengandung minyak), sate lilit dan beberapa makanan khas bali lainnya. Setelah mencoba beberapa menu secara keseluruhan menurut aku makanan Bali ini memiliki rasa pedas dan minyak berlebih. Bagi yang tidak terlalu suka pedas lebih baik pesan menu yang standart seperti ayam atau bebek goreng.

Hotel Kami Menginap di Bali

Hotel Kami Menginap di Bali

 

Kolam Renang di Hotel

Kolam Renang di Hotel

Esok harinya, liburan benar-benar dimulai. Kebetulan jarak hotel kami tinggal berdekatan dengan Pantai Kuta (hanya sekitar 15 menit berjalan kaki) sehingga pagi-pagi kami sudah berjemur di Pantai Kuta bersama turis luar yang menghitamkan diri. Pagi hari turis lokal jarang terlihat. Banyak olahraga air yang bisa dilakukan di Pantai Kuta seperti surfing, bodyboarding, Stand up paddle surfing (papan surfing yang menggunakan dayung), berenang. Berhubung aku ga bisa surfing, akhirnya aku dan 3 keponakanku hanya bermain air di pantai. Pasir putih dan ombak yang tidak terlalu kencang cukup aman buat kami yang tidak bisa berenang :p. Sempat tergoda untuk bermain bodyboarding dan hasilnya badan terlempar-lempar didalam gulungan ombak *_* Sarapan dipinggir pantai juga lumayan murah, dengan merogoh kocek 5 ribu rupiah aku sudah mendapatkan 1 bungkus nasi rames dengan isi nasi, telur / ayam goreng, mie dan orek tempe. Harga murah dengan porsi bikin kenyang. Tapi jangan heran kalau harga yang diberikan si penjual berbeda dengan turis bule yang harus membayar 10ribu untuk 1 nasi bungkus.

Pantai Kuta, Bali

Pantai Kuta, Bali

Pantai Kuta, Bali

Pantai Kuta, Bali

Pantai Kuta, Bali

Pantai Kuta, Bali

Pantai Kuta, Bali

Pantai Kuta, Bali

Selepas dari bermain di Pantai Kuta kami kembali ke hotel untuk pergi berjalan-jalan keliling Bali. Rencananya kami akan pergi ke Danau Batur. Perjalanan yang cukup panjang dari Kuta melewati jalanan berbukit, lembah, sawah, sampai akhirnya kami di Kintamani yang hawanya dingin seperti di Puncak. Kami melihat Istana Mancawarna, peninggalan Pak Soekarno, presiden pertama Indonesia. Pengunjung yang memasuki istana ini wajib membayar 25ribu/org untuk turis lokal. Menurut informasi sang penjual tiket, istana ini berisi barang-barang koleksi Soekarno seperti surat-surat, lukisan, dll.

Istana Mancawarna

Istana Mancawarna

Istana Mancawarna

Istana Mancawarna

Kami melanjutkan perjalanan ke Istana Tampaksiring. Nama Tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu “tampak” dan “siring”, yang masing-masing bermakna telapak dan miring. Konon, menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini pandai dan sakti, namun sayangnya ia bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan bala tentaranya. Mayadenawa pun lari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap para pengejarnya tidak mengenali jejak telapak kakinya. Namun demikian, ia dapat juga tertangkap oleh para pengejarnya. Sebelumnya, ia dengan sisa kesaktiannya berhasil menciptakan mata air yang beracun yang menyebabkan banyak kematian para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air tersebut. Batara Indra kemudian menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun itu yang kemudian bernama “Tirta Empul” (“air suci”). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan sambil memiringkan telapak kakinya itu terkenal dengan nama Tampaksiring.

Di Kawasan Istana Tampaksiring

Di Kawasan Istana Tampaksiring

Menurut kakakku, harga souvenir di Istana Tampaksiring lebih murah dibandingkan di Pasar Sukawati, Kuta atau Legian. Kami mulai bergegas mencari souvenir di kios-kios yang berjejer sepanjang jalan menuju Istana Tampaksiring. Disini kita bisa membeli tas, dompet, kalung, gelang, cincin, baju, kain, scarf, sampai lukisan khas Bali. Tapi tetap saja siapa yang paling jago nawar, pasti dia yang untung (hehehe untung saya jago nawar + lihat barang bagus). Saya berhasil menawar topi yang saya pakai sampai 20ribu.

Setelah puas berbelanja di Istana Tampaksiring kami memutuskan pergi ke Pasar Sukawati. Perjalanan menuju Pasar Sukawati melewati Ubud disuguhi galeri-galeri seni dan hasil kerajinan kayu disisi kiri dan kanan jalan yang bikin saya mupeng. Sesampainya di Pasar Sukawati kami melanjutkan mencari barang yang masih harus dibeli. Pasar Sukawati yang buka dari jam 8 hingga 6 sore menjual berbagai macam oleh-oleh hingga perlengkapan tari Bali. Kakak saya tertarik untuk mencoba membuat tatto yang terbuat dari hena. Harga yang ditawarkan sang pelukis tatto 75ribu akhirnya aku tawar jadi 15ribu. Jadilah kami berdua membuat tatto berbentuk bunga di kaki kami.

Oleh-oleh Berupa Tatto

Oleh-oleh Berupa Tatto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *