Bali : Jatuh Hati pada Ubud!

Ubud adalah sebuah tempat yang terkenal dikalangan para wisatawan mancanegara sebagai tempat peristirahatan di daerah kabupaten Gianyar, pulau Bali, Indonesia. Jika sebagian besar Bali identik dengan hamparan pantai untuk menghitamkan diri, maka di Ubud terkenal dengan pemandangan hijau persawahan dan hutan di antara jurang-jurang gunung nan mempesona serta galeri seni untuk menenangkan diri. Mulai dari film box office Eat, Pray and Love sampai sinetron lokal banyak yang mengambil scene di Ubud. Dari akhir tahun aku sudah berniat bersepeda keliling Ubud yang katanya sih memberikan nuansa romantis seperti di scene Liz yang bersepeda di antara persawahan.

Letak Ubud ternyata cukup jauh dari pusat keramaian di Kuta. Beruntung, aku yang buta jalanan Bali diantar teman yang baik hati mau mengantarkanku menuju Ubud untuk mencari penginapan. Menyusuri jalanan Seminyak selama 2 jam menuju Ubud yang sore itu habis hujan deras dan berkabut seperti memasuki dunia lain. Suasana Seminyak yang ramai hiruk pikuk pemadangan cafe kiri dan kanan dipenuhi para turis yang berkumpul bersorak bahagia berbanding terbalik dengan Ubud yang menyajikan pemandangan sawah berselang dengan sulur-sulur pohon besar dengan hawa dingin. Tapi entah kenapa, ketika memasuki area Ubud aku malah tersenyum bahagia seolah-olah Ubud menyambutku dengan ketenangan hati.

 

cindiltravel bali 22 ubud

Aku sudah browsing hotel, tapi belum booking karena ingin cek di lokasi saja. Ternyata cari penginapan “go show” di Ubud itu rada susah karena sudah banyak dibooking oleh wisatawan mancanegara. Setelah keliling-keliling 1.5 jam di jalanan yang banyak one way plus sempit, akhirnya aku dapet juga penginapan di Jl. Monkey Forest (padahal keliling sampe belakang jauh-jauh ga dapet). Namanya Puri Ullun Carik, tempatnya lumayan asri dengan bentuk bangunan dari luar khas Bali. Interiornya kamarnya tradisional dengan dinding kamar terbuat dari bambu dan pintu kamar pakai selot kayu dari samping kayak pintu jaman dahulu *didobrak ancur deh. Bangunan dikelilingi tanaman teduh dan bambu, masih ketemu binatang tupai dan denger suara tokek. Lokasinya di jalan utama, keluar langsung cafe, butik, dan tempat wisata. Di Ubud ga usah gaya nyari kamar ber-AC karena udara di Ubud itu dingin *kata temen yang selalu pertanyaan pertama waktu nyari hotel : ada hot water? Walaupun di kamar ga ada TV, tapi kamar sebelah diisi 4 cewek asal Korea. Cukup dengerin mereka ngomong aja udah berasa kayak nonton Drama Korea suasana Ubud 😀 😀 😀 Belum lagi pemilik penginapan yaitu Pak Agung dan keluarganya yang baik, ramah dan sangat membantu aku selama di sana.

Berhubung temen harus balik lagi ke Kuta (duuuh jauh banget) aku pun melanjutkan menikmati Ubud di malam hari sendirian. Dan kali ini aku menyusuri Ubud dengan berjalan kaki dari penginapan ke Pasar Seni untuk mencari makan malam. Sepanjang jalan dipenuhi dengan cafe, resto dan butik yang harganya sih menurut aku di atas rata-rata. Kalau capek berjalan kaki, bisa berhenti sejenak dan merasakan refeleksi. Di Ubud tidak perlu khawatir dengan restoran yang menyediakan makanan halal, karena beberapa resto menyajikan menu western, Indonesia, Asia (Jepang / Thailand), hingga Vegetarian tinggal pilih sesuai dengan budget. Aku memilih makan steak yang harganya ga terlalu mahal (sekitar Rp75.000,-) di Dian Restaurant yang bernuansa klasik khas Indonesia dengan properti jadul seperti TV, radio sampai meja kursi. Aku sih emang suka yang bernuansa klasik dan kayu. Tak perlu takut berjalan kaki malam hari di Ubud karena jalan raya yang kecil dan cafe yang buka sepanjang malam membuat suasana lebih bersahabat dan aman.

Dian Restaurant Ubud Bali_cindiltravel

Esoknya, aku bangun pagi-pagi, anak perempuan Pak Agung sudah menyiapkan sarapan di depan kamar sewaktu aku berkeliling menikmati pemandangan di penginapan yang bikin damai banget. Setelah sarapan dan mandi, aku pun bergegas mencari penyewaan sepeda sekaligus jogging. Ternyata penyewaan sepeda sudah jarang di Ubud, lebih banyak sepeda motor yang harganya cukup murah Rp 50.000,- seharian. Kalaupun ada itu sepedaan paket tur yang harganya ratusan ribu. Akhirnya aku mendapatkan penyewaan sepeda dengan harga Rp 25.000/ sampai puaaas.

Ubud Bali_cindiltravel

Jam 9 pagi perjalanananku pun dimulai! Rute pun dibuat dadakan aja ngikutin google maps yaitu tujuan Tegallalang. Awalnya aku sempat mampir ke arah Ibah Villas untuk mengunjungi Campuhan Ridge, tapi saat sampai dan banyak orang disana aku memilih rute langsung ke Tegallalang.

Bersepeda ke Tegallalang dan keliling Ubud

Rute yang aku pilih adalah Jl. Monkey Forest – Jl. Andong – Jl. Raya Tegallalang yang ternyata berjarak 7.9 km (itu baru jalan berangkat ajah sodara-sodara). Gowes sepeda selama 2 jam dengan trek naik terus ga pernah turun! Ga usah gaya naik sepeda pake dress kayak di film eat, pray and love, karena baru berangkat aja udah mandi keringet. Rasanya mau nangis di pinggir jalan kibarin bendera putih tanda menyerah, sadar juga sih kalau nyerah juga tetep harus balik lagi ke kota naik sepeda. Tapi iming-iming pemandangan sawah dan perkampungan yang menguatkan aku untuk terus gowes maju terus pantang puter balik. Beberapa kali aku istirahat dipinggir jalan untuk sekedar mengatur nafas, beruntung aku ngobrol sama nenek-nenek tentang rute sepedaku. Sang nenek memberikan alternatif menuju Jl. Cinta, aku pun masuk perkampungan Tegallalang mencari yang namanya Jl. Cinta. Ternyata menuju Jl. Cinta itu sama artinya menambah jumlah kilo meter dengan trek jalan turun berkelok dan masuk area persawahan. Jadi beneran KESAMPEAN JUGA SEPEDA DI TENGAH SAWAH terjal nan sempit, kalau bengong bisa masuk got irigasi. Pemandangan di tengah sawah itu syahduuu banget.

cindiltravel bali 1_ubud

Menikmati Makan Siang di Bebek Tepi Sawah

Rasanya memberikan hadiah pada diri sendiri dengan makan enak setelah bersepeda sejauh 7.9 km trek naik dan 10 km trek turun (baca : Total 17.9 km!) adalah hal yang masuk akal. Pilihanku jatuh ke Bebek Tepi Sawah. Lagi-lagi pemandangan sawah yang aku nikmati selagi makan Bebek Crispy menu unggulan resto ini. Harga yang harus dibayar hampir Rp 150.000,- untuk 1 menu komplit setengah ekor bebek dengan es teh manis. Jangan bandingkan harga sewa sepeda dengan bill-nya. Kebanting banget! Hahaha. Tapi yang penting tuh bebek udah damai masuk ke perut buat digiles sama usus saat sepeda 2.3 km menuju Monkey Forest.

 

Hutan di tengah Kota Ubud

Kali ini aku berkunjung ke Monkey Forest yang menyuguhkan pemandangan hutan di tengah kota dengan ribuan kera jinak sadar kamera! Para kera dengan santainya bertingkah, bermain dan makan di depan kami, seolah sadar bahwa mereka adalah tontonan. Hanya dengan tiket seharga Rp 40.000,-/ orang kita juga bisa berkeliling melihat beberapa pura tempat ibadah, panggung terbuka, jalanan trek kayu yang terpisah dengan sungai dan di ujungnya ada tempat sesaji. Yang menganggumkan adalah banyaknya pohon-pohon berukuran besar yang umurnya mungkin sudah ratusan tahun dengan sulur-sulur dahannya menyentuh lantai.

Belajar memandangi Lukisan

Puas bermain dengan alam dan kera, ku laju sepeda sejauh 2.6 km menuju sebuah tempat sang maestro lukisan romantik ekspresif yang terkenal dengan gaya lukisan feminim-nya yaitu Antonio Blanco. The Blanco Renaissance Museum merupakan rumah sekaligus museum. Dengan membayar tiket Rp 30.000,- / orang, kita dapat berkunjung ke seluruh area museum dan halaman rumah yang asri dengan burung kakak tua aneka warna. Saat di dalam museum lukisan kita dilarang untuk memdokumentasikan lukisan dalam bentuk foto. Tapi masih banyak spot cantik yang bikin aku jatuh hati termasuk menikmati minuman gratis di cafe-nya!

Waktu sudah menujukkan pukul jam 6 sore, perjalananku di Ubud pun harus ditutup karena aku harus kembali ke Jakarta malam hari. Walaupun ga semua tempat bisa dikunjungi, kaki pegel, ngantuk, badan hitam gosong, belom lagi kalau kata temen “kurang kerjaan” tapi buatku, bisa menyelesaikan dan menikmati rute sepeda sejauh 25 km rasanya sudah bahagiaaaa banget. Perjalananku di Ubud ini memang sudah ditutup tapi bukan berarti yang terakhir, kelak aku akan kembali membawa perasaan bahagia dan damai ke sini.

Terima kasih Semesta,

Terima kasih Ubud,

karena sudah memberikan banyak keberuntungan dan ketenangan hati!

2 Ubud Bali_cindiltravel

One thought on “Bali : Jatuh Hati pada Ubud!

  1. Pingback: Tulisan Blog Cindiltravel | CINDILTRAVEL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *