Menguji Nyali Memanjat Tebing Gunung Parang via Ferrata

Kalau bisa dipetakan perjalananku selama ini rata-rata isinya foto-foto laut, kalaupun ada foto gunung, itupun cuma pendakian singkat. Kemudian terbesit keinginan mendaki gunung lengkap dengan carrier berisi peralatan kemping, walaupun niatnya sih “kemping cantik” ala-ala yang kayaknya seru.

Jadilah aku mencari gunung yang deket dan mudah buat pemula, eh nemunya Gunung Parang yang letaknya di kota Purwakarta dan dapat dilalui dengan cara ferrata yang artinya teknik memanjat dengan mendaki tangga besi yang “ditanam” di sepanjang dinding tebing. Jadi bahasa kerennya kayak “rock climbing”. Naik gunung aja belom pernah, ini langsung bonus panjat tebing pake bawa beban buat kemping yang tingginya bisa sampai 900 meter -___-“

cindiltravel-gunung-parang-1

Dengan tekad sepenuh hati, apapun yang akan terjadi, maka perjalanan Jakarta ke Purwakarta pun aku lalui bersama 3 travelmate (Mba Rona, Benny –adik- dan Puteri) demi mendaki gunung dan kemping cantik pertama kalinya. Sebelum berangkat pastinya kita belanja kebutuhan buat kemping kayak sayur, lauk, bumbu masak, sampe perintilan kecil-kecil. Sebenernya seru, tapi pas sadar tuh trolly belanjaan penuh, kita bingung bagaimana bawa ke atas gunungnya??? *dasar cewek semua mau diambil aja o_O

rute-cindiltravel-gunung-parang

Rute Perjalanan Jakarta – Purwakarta – Gunung Parang sampai wisata kuliner

Rute dari Jakarta menuju Gunung Parang sebenernya cukup mudah, karena bisa menggunakan GPS. Cuma rada bingung aja kalau udah lewat jalan kecil *bahkan kami sempet nyasar ke gunung lainnya. Untuk mencapai ke Gunung Parang dari Jakarta, kurang lebih rutenya Jakarta – Tol Ciganea/ Jati Luhur – Pasar Anyar Sukatani – Gunung Parang Badega. Kalau mau naik kereta juga bisa turun di stasiun dekat Gunung Pandega, terus lanjutin naik ojek sampai ke lokasi.

ayam ciganea, enaknya tiada tara *lebaaay

ayam ciganea, enaknya tiada tara *lebaaay

Mengikuti saran teman, begitu keluar Tol Ciganea mending makan siang dulu di RM Ciganea karena selanjutnya ga ada rumah makan yang lumayan besar. Ternyata ini menu makan kesukaanku yang di Tebet, menu RM Ciganea ini enak dan ramah di kantong. Sambel merah sama ayam gorengnya juara!

Baca juga ulasan tentang ayam goreng Ciganea di Jakarta, disini!

cindiltravel-gunung-parang-3

bale-bale atau posko Badega, bisa untuk istirahat dan menginap

Setelah melewati jalan tol, masuk pasar, nyasar ke gunung, perjalanan naik turun bukit *tapi untungnya ga melewati 1 purnama kayak film AADC. Akhirnya sampai juga di posko Badega, Gunung Parang. Kami mengisi form pendaftaran untuk mengambil paket 4 orang (memanjat) 300 meter, kemping 1 malam dengan perlengkapan kemping bawa sendiri dengan total biaya 900ribu rupiah dibagi 4 orang. Oh ya, kalau tidak punya perlengkapan kemping dan tidak membawa makanan jangan khawatir karena tim Badega bisa menyiapkan semuanya termasuk menu ikan bakar. Jadi kalau mau kemping ga perlu repot, bisa!

bongkar dan packing muatan carrier

bongkar dan packing muatan carrier

Kami mempersiapkan semua perlengkapan untuk naik ke atas gunung, membagi logistik dan peralatan kemping ke setiap tas. Dan yang logistik yang paling berat menurutku itu air minum, setiap orang wajib membawa minum 3 liter dimasing-masing tas. Buat yang boros air, ya silahkan menambah berat beban sendiri. Kalau ingin tidak menginap juga bisa kok, hanya mengambil paket panjat tebing 1 hari, tapi perlu disiapkan saja waktu lebih untuk perhitungan naik dan turun gunung. Untuk 300 meter 3 jam cukup naik dan turun tetapi disesuaikan dengan kemampuan tim.

trek pertama mah masih unuyu-unyu

trek pertama mah masih unuyu-unyu

Saat pendakian dimulai, antara siap ga siap, kami harus sudah menggunakan alat untuk memanjat tebing. Adapun alatnya mulai dari harnest yang merupakan alat pengikat di tubuh sebagai pengaman yg nantinya dihubungkan dengan tali. Kemudian webbing yang diikat dengan carabiner, cincin kait yg terbuat dari alumunium alloy sebagai pengait dan dikaitkan dgn alat lainnya. Sebelum naik, pastikan alat nyaman saat digunakan baik saat posisi berdiri hingga posisi jongkok. Oh ya, gunakan baju yang nyaman dan mengikuti gerakan tubuh serta sepatu olah raga yang memiliki grip bawah agar tidak licin saat memanjat besi dan tebing.

cindiltravel-gunung-parang-6

Selain trek berat, yang bikin rapeling, kepala pening. Mengikatkan diri di tali sling bikin makin gemeter kalau kelilit dan ga mau masuk di sling double

Waktu naik, cuaca lagi antara mendung dengan gluduk bersaut-sautan yang bikin suasana makin dag dig dug naik tebing. Kami dipandu 2 orang dari Badega, 1 orang sebagai pembawa tenda di depan dan 1 orang menjadi seksi dokumentasi di posisi terakhir. Saat tangga pertama akan dipanjat, kami mendapatkan pelajaran singkat cara pasang dan lepas 2 carabiner agar posisi badan selalu terkait dengan besi. Rasanya 10 langkah pertama itu masih oke-lah, tapi setelah ngalamin tali webbing mulai suka melintir dan carabiner mulai kesulitan saat dikaitan tali sling besi double, duuuh dengkul langsung gemeter ngeliat dasar gunung yang semakin jauh tapi antrian teman dibelakang udah mendekati aku (jarak aman antar 1 orang dengan yang lainnya adalah 1 paku besi).

Baca juga pengalamanku naik Gunung Ijen di sini!

cindiltravel-gunung-parang-18

Makin tinggi tebing dipanjat, makin banyak cucuran keringat hasil dari perjuangan tenaga, pikiran dan kesabaran. 3 point penting ini yang aku pelajari dari memanjat tebing yang kelihatannya hanya tangga besi lurus dan ke samping. Padahal kenyataannya mau naik aja pakai mikir kaki mana duluan, caranya biar kaki ga slip, dan mental saat melihat pemandangan dibawah yang makin jauh dari kaki.

Matahari sudah menghilang, awan gelap mulai menggantung di pukul 5 sore, pada posisi 100 meter dari kaki Gunung Parang tenda kami sudah siap. Jika kami melanjutkan perjalanan ke 300 meter maka kami akan turun tebing saat gelap dengan headlamp yang tidak sesuai dengan jumlah orang. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan esok hari. Dan kami menikmati sore di ujung tebing kapur putih dengan pemandangan waduk Jati Luhur dan Gunung Lembu di seberang kami yang setelah ini pasti menjadi spot foto terkenal seantero instagram! Hahaha.

cindiltravel-gunung-parang-9

Serunya tempat nongkrong kita sore-sore

cindiltravel-gunung-parang-26

akhirnya kesampean juga naik gunung *eh panjat tebing!

Dibalik hasil foto yang keren ada : temen yang bagian foto & temen yang antri foto :D

Dibalik hasil foto yang keren ada : temen yang bagian foto & temen yang antri foto 😀

Berhubung tenda kami hanya muat 4 orang, jadilah 2 orang pemandu ijin untuk meninggalkan kami di atas Gunung, tentunya dengan persetujuan kami karena memang niat kemping mandiri. Eh malam-malam terdengar suara orang dari bawah tebing, waaah akhirnya kami mendapatkan tetangga kemping juga *Hebat euy malem-malem, gelap-gelap manjat tebing!

Pema

Hiburan kami malam-malam yaitu memandangi bulan, bintang di langit (kegiatan yang paling aku suka!). Lucunya kami memiliki hiburan lain yaitu saling mengirimkan sinyal lampu kelap kelip menggunakan headlamp bagi para pendaki yang kemping di Gunung Lembu di seberang kami. Jadi inget jaman pramuka kirim pesan morse lewat bendera, kalau ini pakai lampu.

Menunggu malam di atas gunung.

Menunggu malam di atas gunung.

Ditinggal nongkrong sama penghuni baru, ternyata adik-adik aku sudah selesai masak dengan menu Nasi, Ikan Sarden, Sosis-Bakso-Jamur Goreng. Hebat! *aku yang “anak laut” tinggal makan aja 😀 😀 😀

makan malam sederhana tapi terasa mewah

makan malam sederhana tapi terasa mewah

Selesai makan, ganti baju dan berbenah menjelang tidur malam eh tetangga kemping sebelah mengundang makan malam jam 12. Menu makan ikan nila bakar, lengkap dengan sambal kecap (sambelnya pedas cabe dan jahe, katanya sih khas orang Purwakarta) dan nasi liwet disajikan di atas daun pisang dimakan ramai-ramai. Duuuh kekeluargaan sekali ini, saya mah tinggal numpang makan tengah malam *rejeki anak soleha mah ga pernah tertukar ^___^

si akang pada masak kelas berat euy

si akang pada masak kelas berat euy. Makan malam tetangga kemping. Nikmat bukan? Apalagi aku yang cuma numpang makan gratis

makan bareng-bareng di atas daun oisang sambil diri pula.

makan bareng-bareng di atas daun pisang sambil berdiri pula.

Setelah kenyang makan, aku dan yang lainnya kembali ke pinggir tebing, tiduran sambil menatap bintang malam hari, bercanda dan tertawa bahagia bersama teman-teman baru dari Purwakarta. Buat aku ini perdana mandangin bintang sambil kemping di atas gunung. Menjelang jam 2 pagi aku undur diri masuk tenda pengen tidur alasan mau bangun pagi liat sunrise dari gunung. Eeeh pas pagi rasanya denger suara hujan, kenyataannya dibangunin tetangga yang katanya : sunrise-nya udah ilang! Wkwkwkw ternyata tidur ditenda serasa di rumah, sama-sama males bangun pagi-nya -_____-

Tempat kemping kami. Tebak, dimanakah toiletnya?

Tempat kemping kami. Tebak, dimanakah toiletnya?

Berniat kemping cantik, tapi tetep wajib jadi "ijah berjamaah"

Berniat kemping cantik, tapi tetep wajib jadi “ijah berjamaah”

Kalau kita pagi-pagi ngeributin masalah toilet (berhubung langit udah terang, area tenda cuma seiprit jadi bingung deh mau ngumpet bikin toilet dadakan dimana, tapi untungnya bawa kain bali yang multi fungsi jadi sarung dan tirai) eh tetangga sebelah mah udah siap untuk manjat tebing lagi jam 7 pagi. Dasyaaaat! Sementara mereka panjat tebing, kita siapin sarapan buat ngisi perut sebelum manjat.

cindiltravel-gunung-parang-16

Walaupun di gunung, tapi tetep NO indomie. Kita makan sehat dong!

Dan sarapan mewah di gunung dengan menu sayur sop bakso, sosis dan nugget goreng pun siap disantap ketika tetangga sebelah turun ke bawah dan bisa makan bareng. Setelah kenyang giliran kita manjat ke atas dengan membawa beban perut berisi makanan.

cindiltravel-gunung-parang-23

Ternyata trek menuju 300 meter tidak sesulit 100 meter pertama, hanya saja treknya sudah mulai ke seperti zig-zag ke kiri dan ke kanan, jadi posisi badan merayap ke tebing. Dengan pemandangan yang makin tinggi tentu makin berat tantangan ke bawahnya, anggap saja sedang uji nyali.

cindiltravel-gunung-parang-17

cindiltravel-gunung-parang-24

Walaupun trek-nya kadang bikin ngilu liatnya, tapi kita masih sempet seru-seruan foto buat menghilangkan ketegangan 😀 😀 😀

Jangan ditanya pemandangan ke bawahnya, bikin ngilu kalau udah ngeliat cuma tebing curam. Yang lucunya kadang ada kawanan monyet yang ikutan nongkrong di tangga besi.

cindiltravel-gunung-parang-20

Kalau udah capek, posisi nyender bareng-bareng di tebing diiket pake tali sling.

Sampai di 300 meter ternyata area untuk kempingnya berukuran sangat minim, kontur tanah terjal dan miring bahkan kalau menginap di posisi 300 meter saat itu ada baiknya badan diikat ke tali sling *duh ya iya sih… kan ga tau ya klo tidurnya jalan-jalan. Nah berhubung kita mau foto-fotonya keren, jadilah lanjut naik ke arah 300 meter lebih dikit. Sejujurnya, aku cukup bahagia kok sampe 300 meter lebih dikit, karena perjalanan turun sesungguhnya lebih sulit apalagi membawa beban.

cindiltravel-gunung-parang-21

Kalau udah capek, tinggal tinggal posisi berdiri liat bawah (awas gemeter) atau jongkok bertumpu lutut (tapi bikin lebam)

Overall, pengalaman ini buat aku yang ga pernah kemping, naik gunung, turun gunung dengkul biasanya tremor bisa ngerasain “rock climbing” di Gunung Parang via ferrata ini mah juara banget deh! Begitu turun nginjek daratan, rasanya kayak abis diving ngelawan arus. Badan pegel-pegel, remuk redam, apalagi turun sambil liat pemandangan dari ketinggian 300 meter yang kadang bikin lutut lemes terus jongkok dibesi ga mau gerak. Bahkan saat diketinggian 10 meter dari kaki gunung itu aja masih keliatan tinggi banget! Tapi kalau inget kata guide kalau ada anak kecil umur 10 tahun aja udah ada yang sanggup manjat tebing ini, kita jadi semangat lagi walaupun lutut sama tangan lebam gara-gara dijadiin tumpuan banting badan ke tebing. Hahaha *salahnya nyiksa diri sendiri.

cindiltravel-gunung-parang-19

kita masih bisa gaya kooo.. *padahal sih lagi istirahat kecapean ditengah trek

Walaupun untuk menaiki tebing Gunung Parang via ferrata tidak dibutuhkan lisensi atau kemampuan khusus dalam olahraga panjat tebing, tapi yang jelas saat memutuskan untuk menaiki gunung maka yang harus disiapkan adalah  konsentrasi, kesabaran, stamina dan yang terpenting adalah mental yang kuat (melihat ke bawah dari ketinggian). Oh ya, selain Gunung Parang bisa dilalui dengan cara ferrata, ada cara lain seperti rock climbing dan Tryolean yaitu menyeberangi jurang di antara dua titik gunung setinggi 900 meter, yang jelas makin menguji nyali!

cindiltravel-gunung-parang-31

Yang seru dari kemping itu… ketemu temen survival baru, share ini itu termasuk logistik!

Memanjat tebing dan kemping di atas gunung itu alih alih menguji uji nyali, nyatanya membuat ketagihan pengen kemping lagi (padahal sih ga mandi-mandi) 😀 😀 😀

cindiltravel-gunung-parang-22

Sepulangnya dari Gunung Parang, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta plus mampir ke Rumah Makan Sate Maranggi Hj. Yety Cibungur yang ramenya ampun-ampun tapi nikmatnya bikin kalap pesen apa aja.

cindiltravel-sate-maranggi

Jadi, sudah berani untuk menguji nyali memanjat Gunung Parang ?

cindiltravel-gunung-parang-25

Note :

Contact Badega Gunung Parang : +62 878-7470-8230

Rincian Biaya :
Biaya naik Gunung Parang : Rp 900.000,-
Tips guide 2 org (suka rela) : Rp 200.000,-
Bensin : Rp 200.000,-
Belanja di swalayan : Rp 279.722,-
Makan di RM Ciganea : Rp 139.700,-
Makan di RM Sate Maranggi : Rp 218.000 ,-
Makan Gorengan di RM Sate Maranggi: Rp 20.000,-
Minum di Gunung Parang : Rp 46.000,-
Total Tol Jkt – Purwakarta – Jkt : Rp 64.000,-
Total pengeluaran : Rp 2.067.422,- dibagi 4 org = Rp 516.855,-/ org

5 thoughts on “Menguji Nyali Memanjat Tebing Gunung Parang via Ferrata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *