Nyanyian Kesunyian di Pantai Liang, Ambon

pantai liang cindil travel

Senin adalah segala hiruk pikuk deruman suara manusia di antara gedung pencangkar langit serta mesin-mesin modern yang saling berlomba untuk memulai hari. Tapi kali ini aku memilih Senin sebagai awalan hari menginjakan kaki pertama kalinya di kota Ambon. Rasa lelahku selama pernerbangan dini hari dari Jakarta sampai Ambon tanpa tidur tak mengalahkan rasa inginku mengelillingi mutiara hitam di Timur Indonesia ini.

Jangan bayangkan kesibukan berlebihan di kota besar Ambon, karena jalanan arterinya yang luas tidak sebanding dengan jumlahnya kendaraan yang lalu lalang, bahkan aku pun menunggu

cukup lama untuk mencari kendaraan yang akan kami sewa untuk menuju suatu tempat yang pastinya belum pernah dikunjungi.

Aku bersama teman-teman baru seperjalanan menuju pantai di ujung kota Ambon dengan jarak tempuh 48 km dari Bandara Pattimura, yaitu Pantai Liang. Begitu masuk ke area Pantai ternyata hanya kami yang berkunjung, ya… mungkin karena hari Senin. Siapa lagi yang ke pantai di hari Senin, selain kami orang-orang pencari kesunyian!

Hembusan angin pantai membawa kami menuju sebuah dermaga panjang di bibir pantai berpasir putih. Kami pun disambut dengan lukisan indah berwarna gradasi biru antara laut, awan dan gunung yang membuat jantung berdetak pelan ingin menghentikan waktu sesaaaaaat saja untuk menikmati siang ini, di sini, di Pantai Liang, Ambon. Pemandangan ini didukung dengan area tanpa sinyal komunikasi (kecuali provider warna merah) membantu melupakan penatnya kerjaan yang berseliweran di otak dan rutinitas deadline yang terjadwal.

Tak banyak kegiatan yang dapat dilakukan di Pantai Liang, tapi loncat dari sisi dermaga bisa menjadi pilihan untuk mencoba ardenalin yang lebih menantang. Aku sendiri memilih untuk tidur siang di atas dermaga ditemani suara nyanyian ombak yang berjalan perlahan di bawah teriknya matahari yang keluar malu-malu. Deburan ombak dan hembusan angin laut masih menjadi  nyanyian paling indah menurutku 😀

pantai liang cindil travel 2

Walaupun fasilitas di Pantai ini masih jauh dari sempurna tapi bagiku ini lebih dari cukup. Sejauh mata memandang hanya kami dan penghuni pantai yang ada di Pantai Liang yang menjajakan makanan di pinggir pantai yang rimbun dengan pepohonan dan bangku-bangku berkanopi.

Dan Senin di Pantai Liang kali itu menjadi awalan hari untuk bahagia.

Jangan lupa Bahagia!

karena bahagia itu sederhana
cukup melihat cerahnya langit dan birunya laut
hanya merasakan hembusan angin dan mendengar deburan ombak
tapi masih bisa tersenyum walaupun dalam kesunyian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *