Aceh : Semilir Hembusan Angin di Pantai Seberang Pulau Seulako

Pertama kali menginjakkan kaki di Ujung Barat Indonesia, Pulau Weh kota Sabang rasanya aku tetap tak percaya. Degup jantungku terasa berdetak perlahan mengingat waktu perjalanan yang tak mudah dari Jakarta menuju Medan lewat udara, dilanjutkan via darat menuju Aceh, dan terus bergerak via laut menggunakan kapal ferry menuju Pulau Weh, Sabang *cerita aja ga pake nafas. Bang Mizi, driver sekaligus guide selama aku dan 5 orang teman keliling Sabang menawarkanku untuk mengunjungi sebuah pantai sebelum menuju Titik Nol Kilo Meter, sebuah lokasi yang tidak hanya menjadi ikon kota Sabang tapi juga sebagai tanda geografis Indonesia.

“Pantai-nya ga sebesar pantai Iboih atau Gapang” ujar Bang Mizi kepadaku yang duduk di sampingnya, padahal sedari tadi aku sibuk menikmati semilir angin diantara rimbunan pohon di kiri kanan jalan menuju Nol Kilo Meter. Aku pun menjawab singkat “ga papa kok, asal jangan ketinggalan sunset di Nol Kilo Meter” pesanku. “Pantai-nya di depan penginapan sodara abang (Bang Mizi maksudnya), jadi ga semua orang tau, pokoknya private deh” cerita Bang Mizi meyakinkanku dengan logat Melayu khas Aceh bercampur bahasa inggris. “Iya ga papa, pokoknya jangan telat ya Bang!” uuuh si abang ini ya cerewet banget baru awal kenal, ujarku yang kembali sibuk dengan action cam mengabadikan jalanan berkelok menuju lokasi.

Mobil kijang innova masuk ke sebuah perkarangan ilalang tinggi, seperti tanah tak bertuan dengan pemandangan bangunan kayu tinggi “Mana pantai-nya si abaaaang?” protesku ketika sampai. HAHAHAHA. Alih-alih diajak ke pantai, aku malah curiga diajak yang tidak-tidak  o_O 😛

Bang Mizi turun dan pergi ke balik bangunan kayu, terpaksa kami mengikuti dengan langkah was-was dan persiapan tongsis yang bisa beralih fungsi macam nonton film horor thriller. Dan ternyata aku salah telah berburuk sangka. Dibalik sebuah bangunan kayu itu tersaji pemandangan pantai sepi tak bertuan dengan ombak tanpa riak. Cerahnya langit biru dan luasnya pantai di depan bagaikan lukisan Tuhan yang tak bisa disangkal keindahannya. Pantai ini jelas tak memiliki ombak karena terhalang oleh Pulau Seulako di seberang yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya oleh para diver.

Kami sibuk berlari ke sana kemari, bahagia tak terhingga membuat kami lupa bahwa matahari sedang terik-teriknya kala itu. Bahkan kulitku yang awalnya putih merona seperti kata iklan-iklan di TV langsung merah membara alias kebakar *hahaha klo ini mah boong o__O

cindiltravel_pantai seulako_sabang aceh_5

 Pulau Seulako ada di seberang

cindiltravel_pantai seulako_sabang aceh_6

pemandangan sebelah kanan pantai

Untungnya di pantai ini tersedia hammock atau tempat tidur gantung dengan tali diantara dua pohon, jadi aku dapat menikmati keindahan alam dan pantai lewat semilir angin yang berhembus meskipun mata dengan terpejam. Penginapan sederhana tanpa TV dan pendingin ruangan (AC), jauh dari keramaian dan perumahan warga dibandrol dengan harga tak murah ini menyajikan ketenangan alam dan batin. KETENANGAN BATIN. Ya, inilah yang dirasakan para penghuni penginapan Seulako sama sepertiku yang menikmatinya di pantai ini.

cindiltravel_pantai seulako_sabang aceh_8

cindiltravel_pantai seulako_sabang aceh_3

kami yang foto-foto bersama Bang Mizi berlatarbelakang penginapan Seulako

16 thoughts on “Aceh : Semilir Hembusan Angin di Pantai Seberang Pulau Seulako

      • Memang mahal ya, waktu itu pernah rencana kesana dgn pesawat tapi mahal jadi ga jadi. Ternyata bisa lewat darat juga ya..aman saja kah? berapa lama kira-kira?

        • Sebenernya sih klo dari medan ke weh paling 500ribu bisa naik garuda. Cuma temen seperjalanan ada yang dari surabaya dan balikpapan. Jadi kami pilih titik temu di medan.

          Naik bis dari Medan ke Aceh itu nyaman banget, kursi empuk-sempuk2nya, lengkap bantal dan selimut tebal. Busnya besar. Sekarang malah ada double deck. AC dingin banget. Kalau mabok diperjalanan minum antimo aja.

          Berangkat jam 10 malam dari Medan sampai terminal Aceh jam 8 pagi.

          • Malah lebih seru kan lewat darat, perjalanan semakin dinikmati 😀
            Wah bus nya sudah bagus ya, boleh deh jadi wishlist destinasi selanjutnya. Thank you 🙂

          • Yaaa seru banget kok. Mudah2an selanjutnya aku juga bisa ngerasain Ke Togean via darat lewat Palu. Hehehe tiket yang dibeli sudah via Palu.

            Oh ya, katanya seru juga Medan – Padang via darat. Bisa liat kelok 9 dan ngerasain bus lintas sumatera yang jarang ngerem 😁

          • wah sudah dibeli tiketnya ya haha padahal lebih enak lewat luwuk loh. Tapi gapapa, selama perjalanan darat pemandangannya indah. Pegunungan, hutan alami, dan pesisir laut.
            Iya lintas 9 terkenal banget ya, melihat keindahan keloknya yang memacu adrenalin, pasti seru 🙂 Semoga kapan-kapan bisa kesana.

          • Iya udah beli tiket via Palu, kata temen lebih cepet daripada via Gorontalo yang bergantung sama kapal ferry. Tapi nanti liburan akhir tahun mudah2an bisa ke Toraja. Ngerasain ngelingkarin gunung 😁

          • oh mau sekalian liat GMT ya? Iya bener lebih cepat dan nyaman lewat Palu ketimbang Gorontalo.
            Amiin, mudah-mudahan bisa explore sulawesi ya hehe

          • Aku ke Togeannya bulan Mei. Malah liat GMT ga bisa soalnya ada kerjaan. Ke Belitungnya malah akhir bulan ini. Semua org bilang sayang banget ga bisa liat GMT -___-

          • Bagus bulan mei, pas sekali.
            Yaaahh sayang banget hahaha pergi ke dua kota yg dapet GMT tapi gak pas GMT.. sabar yah 😀

          • Hahaha… ga kepikiran ngeliat GMT waktu beli tiket 😂😂😂 aku malah ngejauhin gerhana matahari biar lautnya anteng. Emang tinggal di Sulawesi ya?

          • Pasang laut purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan Matahari berada dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang naik yang sangat tinggi dan pasang surut yang sangat rendah. Pasang laut purnama ini terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama.

            https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pasang_laut

            Intinya :

            Pada saat gerhana bulan maka kemungkinan besar air laut dan gelombang pasang akan sedikit mengalami peninggian. Nah klo trip aku ke laut, aku biasanya cek tanggalnya pas lagi gerhana bulan penuh apa engga. Biar main di lautnya puas 😊😊😊

            Wah ternyata sama2 tinggal di Ibu kota 😂

          • Lengkap sekali penjelasannya. Makasih ya, lumayan ngingetin lagi pas SD pernah belajar itu hahaha
            Aku aja ga kepikiran liat-liat tanggal gitu, yg penting berdoa aja biar ga ada gelombang gede 😀 kerenn itu namanya samrt traveller 🙂
            Sama-sama warga yang penat dan haus liburan ya hihi

  1. Berdoa sama minta restu orang tua saat perjalanan itu mah kudu dan wajib hukumnya. Tapi tetep cek cuaca dan kondisi lokasi tujuan wisata itu juga jadi pertimbangan. Sisanya mah jalanin aja… ngikutin skenario yang memang harus terjadi tapi tetep berbuat baik dan santun.

    Kalau kata pepatah orang Aceh waktu ketemu orang yang baik hati kasih tumpangan; kalau kamu (pendatang) kasih 100 (kebaikan) maka kami (orang aceh) akan kasih 1000 (kebaikan).

    Iyaaa warga Jakarta butuh Liburan 😂😄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *