Lombok : Mengenal penduduk asli Lombok melalui Desa Sade

Desa Sade Lombok Cindiltravel 2

Sade adalah salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang mempertahankan adat suku Sasak, suku asli Pulau Lombok yang kemudian dijadikan desa wisata bagi para traveler yang ingin melihat keunikan Desa Sade. Bayangan pertama kalau mau ke desa itu pasti susah dijangkau belom lagi akses antara tempat parkir menuju desa pasti cukup jauh. Eh ternyata perjalanan ke desa Sade ini lancar dan mulus, semulus aspalnya. Tempat parkir kendaraannya pun luas. Untuk menemukan desa ini tidaklah sulit karena jaraknya cukup dekat dengan Bandara Internasional Lombok dan Pantai Kuta, akses jalannya pun mulus dan lancar karena berada tepat di tepi jalan raya Praya – Kuta pada bagian luar dusun terdapat papan nama besar bertulisan Dusun Sade.

Saat masuk turun dari tempat parkir kita menyeberang jalan dan disambut oleh para guide yang bersedia membantu kita untuk berkeliling dan menceritakan seluk beluk mengenai Desa Sade. Untuk keliling Desa Sade sebenarnya tidak ada tiket khusus, tetapi kita bisa menyumbang se-rela-nya dalam satu grup saat mengisi buku tamu.

 

Desa Sade Lombok Cindiltravel 1

Pada bagian depan desa kita akan melihat sebuah bangunan seperti pendopo atau yang disebut dengan bale yang berarti rumah dengan ukuran besar dimana tempat para pria Desa Sade berkumpul dan tidur pada malam hari. Saat memasuki desa kita akan melihat perkampungan padat dengan bangunan rumah dengan tinggi yang hampir sama yang terkesan sangat tradisional. Dulu, penduduk desa ini banyak yang menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari) yang dipengaruhi ajaran animisme, dinamisme, Budha, dan Hindu. Tapi sekarang, penduduk Sade sudah memeluk Islam sepenuhnya bahkan sekarang Pulau Lombok terkenal dengan sebutan pulau 1.000 mesjid sangking banyaknya masjid di sini.

Desa Sade Lombok Cindiltravel 3

Aku berkesempatan untuk masuk salah satu rumah tradisional Desa Sade yang terbuat dari bambu sebagai penyangganya, anyaman bambu sebagai temboknya, ijuk jerami sebagai atapnya, dan tanah sebagai alasnya. Pintu rumah dibuat rendah, mungkin tingginya sekitar 150 cm. jika kita masuk pasti posisi badan akan menunduk dan ternyata pintu ini dibuat agar orang yang masuk rumah ini harus menunjukkan kesopanan dan rasa hormat terhadap pemilik rumah. Di dekat pintu ini ada tiga anak tangga kecil yang melambangkan Wetu Telu (tiga waktu) dalam kehidupan manusia, yaitu: lahir, berkembang, dan wafat.

Lantai rumah ini terbuat dari bahan-bahan alami campuran dari tanah, getah kayu banjar, dan abu dari hasil jerami yang dibakar. Nah yang paling unik dari Desa Sade adalah agar lantai makin rekat mereka mengepel lantai rumah dengan kotoran kerbau alias tai kebo *mikir keras waktu ngeliat lantainya. Katanya sih lantai rumah akan terasa lebih hangat dan ga ada nyamuk dan tidak meninggalkan bau, emang bener sih ga bau. Sayangnya aku ga melihat prosesnya langsung.

 

Desa Sade Lombok Cindiltravel 7

Kemudian aku masuk ke sebuah ruangan dapur dimana terdapat tungku untuk memasak yang terbuat dari tanah dan menyatu dengan lantainya. Di dalam ruagan ini tidak ada jendela maka asap membumbung ke atap hingga membekas hitam *ga kebayang kan kalau masak ikan asin bakalan terbatuk-batuk satu rumah *_*. Tidak jauh dari tungku terdapat ruang dengan dinding bilik bambu yang merupakan ruang tidur. Katanya sih hanya perempuan yang tidur disitu. Loh terus pria-nya tidur dimana? Kata guide aku, para pria tidur di bale besar yang pertama kita temui di depan pintu pendaftaran. Ooh.. aku manggut-manggut sambal mikir

 

Desa Sade Lombok Cindiltravel 6

Selain bale, ada juga rumah lumbung yang disebut Berugak yang digunakan untuk menyimpan hasil panen padi. Bangunan ini salah satu ciri khas bangunan Lombok yang biasanya aku lihat jadi ikon restoran ayam Taliwang khas Lombok di Jakarta. Dan menjadi salah satu list aku untuk menginap di hotel bentuknya Berugak *akhirnya aku dapetin Hotel Lumbung di Gili Trawangan. Katanya sih, yang boleh masuk berugak bagian atas (tempat penyimpanan padi) hanya wanita karena wanita mengerti urusan dapur. Berugak biasanya didirikan di depan rumah karena bagian bawahnya juga sering digunakan untuk menerima tamu atau sekedar kumpul keluarga.

Salah satu yang unik lagi dari suku Sasak adalah tradisi pernikahan melalui penculikan. Jadi calon mempelai lelaki akan menculik gadis yang ingin dinikahi, kemudian besoknya dibawa kembali ke rumah orang tua sang gadis untuk dilamar. Tapi ini hanya berlaku di Lombok looh, jangan coba-coba di kota kamu yang bisa bikin semua orang tua kena serangan jantung.

Mata pencarian penduduk adalah bertani sementara para wanitanya bertenun membuat kain ikat dan kain songket. Katanya sih setiap wanita diwajibkan untuk menenun yang menyimbolkan kemandirian dan konon katanya kalau wanita belum bisa menenun tidak diijinkan menikah *loh kan tinggal diculik sama pria :D. Alat dan bahan yang digunakan untuk menenun kain sangat manual dan tradisional. Mereka memintal benang dari kapas. Warna kain dihasilkan dari tumbuhan alami seperti warna kuning dari kunyit dan biru dari mengkudu.

Desa Sade Lombok Cindiltravel 5

Untuk membuat skain tenun dibutuhkan waktu berhari-hari bahkan ada yang menggunakan ritual puasa sebelum menenun untuk kain khusus. Waktu aku ngeliat hasilnya kayaknya biasa aja. Tapi yang membuat mahal adalah kain tenun itu menceritakan tentang adat Suku Sasak. Harga kain yang dijual mulai dari Rp 50.000,- sampai dengan jutaan tergantung ukuran dan tingkat kerumitan proses pembuatan kain tenun. Kain tenun ini cocok buat oleh-oleh, aku aja beli songket dengan harga hasil nawar Rp 125.000,- udah dapet kain dan buat selendangnya.

Desa Sade Lombok Cindiltravel 8

Selain songket ada juga pernak-pernik seperti gelang, cincin, kalung, dan anting, kaos, kemeja dan pernak pernik yang terbuat dari kain songket khas Lombok.

Desa Sade Lombok Cindiltravel 4

Berkunjung ke Desa Sade adalah list terakhir-ku menjelajah Pulau Lombok. Belajar dari Desa Sade tentang kehidupan tradisional memang sudah selayaknya pemerintah dan masyarakat bersama-sama melestarikan kebudayaan yang dimiliki setiap daerah, agar kita juga bangga akan kekayaan dan keanekaragaman yang kita miliki di Indonesia.

Semoga cerita tentang jelajahku di Pulau Lombok ini bermanfaat ya bagi temen-temen yang mau menjelajah Pulau Lombok.

Ayo nabung dan terus jalan-jalan J

Note *karena akan ada cerita tentang jelajahku ke Derawan dan Ambon di tulisan-tulisan berikutnya…

4 thoughts on “Lombok : Mengenal penduduk asli Lombok melalui Desa Sade

  1. Nyasar ke blog ini gara2 search soal alat snorkeling. Cerita lombok nya inspiratif nih. Kebetulan emang mau ke lombok lagi. Banyak tempat yg belum sempet dijelajahin

  2. Hi lagi, mau nanya lagi. Kamu memang pakai guide ke desa sasak ini atau sendiri/berkelompok saja trus menggunakan jasa guide yang ada di tempat langsung? Kalau guide disana, kisaran jasanya berapa ya? Makasi lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *