Sulawesi : Mengejar Sunset di Pulau Papan

Sore itu dengan langkah kaki cepat aku menuju sebuah pulau yang masuk ke dalam sekian banyaknya pulau di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean yaitu Pulau Papan. Aku yang menginap di Malenge Lestari harus berjalan kaki melewati hutan dengan kontur bukit naik turun dan pantai, sebut saja trekking kecil selama 1 jam lebih. Walaupun medan tak terlalu berat, tapi tetap saja kami harus ditemani Kak Agung, salah satu staff penginapan yang membuka jalan dengan membelah ranting-ranting pohon yang menghalangi jalan kami.  Padahal sebenarnya untuk menuju Pulau Papan bisa dilakukan dengan mudah menggunakan perahu motor yang tak sampai 10 menit dari penginapan di Malenge atau 3 jam dari Pulau Wakai. Tapi dasar kami perempuan nekat, masih saja menguji nyali menembus hutan demi melihat matahari tenggelam di Pulau Papan.

   cindiltravel jembatan pulau papan malenge

Pulau Papan di Togean merupakan rumah yang berdiri di atas air, didirikan oleh Suku Bajo yang menghuni wilayah Tojo Una Una, Sulawesi Tengah. Asal usul suku Bajo atau Bajau merupakan suku bangsa yang tanah asalnya Kepulauan Sulu, Filipina Selatan hidup berpindah-pindah (nomaden) dan menjalankan kehidupannya di atas laut, sehingga disebut gipsi laut. Suku Bajo bermigrasi menyebar ke seluruh penjuru bumi hingga ke Indonesia. Mereka menikah dengan penduduk lokal dan akhirnya menetap di rumah yang dibangun di atas air. Suku Bajo berprofesi sebagai nelayan dengan keahlian berenang sambil menahan napas di dalam air dalam waktu lama tanpa alat.

Baca juga perjalananku keliling Togean disini.

cindiltravel jembatan pulau papan malenge togean

Berkunjung ke Pulau Papan akan disambut oleh anak-anak kecil bersenyum ramah yang akan menemani berkeliling pulau. Akbar, salah satu staff penginapan kami bercerita sebelum jembatan kayu dibangun dengan kokoh, demi mengenyam pendidikan anak-anak harus melewati jembatan kayu tak layak atau mendayung perahu kecil setiap harinya menuju sebuah sekolah dasar di pulau terdekat. Setelah stasiun tv nasional meliput betapa sulitnya perjuangan seorang anak demi menuntut ilmu, pemerintah setempat membangun jembatan yang kuat dan aman sepanjang 1 kilo meter menghubungkan Pulau Papan dengan pulau administrasi yang kemudian menjadi icon foto pulau ini. Saat berkunjung akan lebih baik jika Anda membawa buku, alat tulis yang pastinya sangat berguna bagi para guru dan pendidikan anak-anak di Pulau Papan.

Baca juga cara menuju Pulau Togean di sini.

cindiltravel anak-anak pulau papan malenge

Semburat jingga hendak datang, matahari segera tenggelam, kami bergegas naik ke atas Puncak Batu di Pulau Papan. Sebuah bukit yang terbuat dari karang dimana dari puncak kita dapat melihat keseluruhan Pulau Papan sambil menunggu matahari terbenam di balik lautan dan pulau sekitar. Walaupun listrik di Pulau Papan hanya bermodalkan sebuah 2 plat solar ramah lingkungan yang dinyalakan saat malam hari, sinyal telekomunikasi jarang datang, minim fasilitas, tapi menikmati pemandangan alam dari atas bukit ini membuat kita dapat jauh lebih bersyukur atas yang kita terima saat ini. Setelah adzan magrib berkumandang dari masjid satu-satunya di pulau ini, kami pun turun kembali dari bukit menuju kembali ke Pulau Malenge.

cindiltravel pulau papan 1

 

Apa saja yang bisa dilakukan di Pulau Papan : Snorkeling, Sunbathing, berkano, trekking di hutan, keliling Pulau, bermain dan kegiatan sosial dengan anak-anak Pulau Papan.

 

Apa saja yang harus dibawa ke Pulau Papan : Makanan, snack, minuman yang banyak, topi, sunscreen lotion, baju renang, buku dan alat tulis untuk anak-anak sekolah dasar di Pulau Papan.

 

Waktu yang baik mengunjungi Pulau Papan : Yang jelas bukan musim hujan, tapi bisa di waktu pagi, siang dan sore hari (untuk menuju ke Wakai persiapkan 3 jam jadi tidak bermalam di lautan).

 

One thought on “Sulawesi : Mengejar Sunset di Pulau Papan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *