Ke Pulau Pari Tanpa Berniat Bertemu Pari

Sebenarnya perjalananku ke Pulau Pari (kepulauan seribu) udah lama, tanggal 14-15 April 2012. Tapi belum sempet ditulis diblog ini. Semoga tetap bisa jadi referensi bagi traveler yang mau ke sana.

Berawal dari kejenuhan dengan aktivitas pekerjaan, aku bersama teman-teman kantor berinisiatif untuk berlibur bersama. Pertama-tama kami mencari referensi agen perjalanan serta tempat tujuan. Setelah mencari-cari, akhirnya kami memilih perjalanan ke Pulau Pari, Kepulauan Seribu yang dikeliling 5 pulau yaitu : Pulua Kudus, Pulau Tengah, Pulau Burung, Pulau Kongsi dan Pulau Tikus. Kami menggunakan agen Maro Travel (www.marotravel.com), dengan biaya 290 ribu/ org dengan minimal peserta 10 orang. Mulailah kami bergerilya mencari peserta hingga 10 orang.

Setelah mendapatkan peserta 10 orang kami menetapkan untuk pergi tanggal 14-15 April 2012. Sayangnya ternyata 2 orang teman kami cancel ikut, akhirnya kami tetap pergi dengan jumlah peserta 8 orang. Karena kami harus stand by di Muara Angke jam 6 pagi, akhirnya kami memutuskan (untuk kesekian kalinya) menginap di mess kantor dari Jumat malam dan berangkat bersama-sama jam 5 pagi dari kantor.

Start from our office

Siap berangkat berpetualang

Kami sampai di Muara Angke jam 6 pagi sesuai dengan rencana. Begitu sampai kami bertemu dengan agen Maro Travel dan langsung diantar menuju kapal yang akan berangkat ke Pulau Pari. Kami menunggu kapal sampai penuh, ternyata kapal yang kami naiki tidak hanya penumpang yang akan ke Pulau Pari tetapi juga ke Pulau Tidung dan Pramuka.

Setelah kapal terisi penuh oleh penumpang, maka perjalanan pun dimulai dengan menyusuri lautan menuju Kepulauan Seribu dengan kapal kayu. Setelah perjalanan selama 3 jam (lama yaaaa) akhirnya sampai juga di Pulau Pari. Di sambut dengan pemandangan dermaga kecil berpasir putih dan birunya air laut membuat rasa bosan kami selama di kapal langsung hilang. Jangan pikir bahwa kita akan menemukan Pari di pulau ini. Pulau ini dinamakan Pari karena jika melihat dari foto udara nampak seperti ikan pari. Cobalah menggunakan peta satelit di internet untuk melihat bentuknya.

DSCN0096

Dermaga Pulau Pari

Begitu menginjakan kaki di Pulau Pari, kami langsung bertemu dengan guide kami yang bernama Erick. Kami langsung diantar ke rumah penduduk yang akan kami tempati selama di Pulau Pari. Sebenarnya ada beberapa hotel di depan dermaga, tetapi kami mendapatkan paket tinggal di home stay atau sama dengan rumah penduduk lokal. Jika kita tinggal di Pulau Seribu, biasanya memang belum banyak fasilitas hotel, sehingga alternatifnya adalah menggunakan rumah penduduk dan para penghuni rumah yang kita gunakan akan pidah sementara ke rumah saudara mereka selama rumah tsb kita gunakan. Selama di Pulau Pari tidak perlu khawatir untuk  listrik, karena listrik disini sudah 24 jam. Untuk jajanan juga banyak terdapat warung makan (indomie / mie ayam) serta tukang makanan seperti bakso yang keliling kampung. Begitu sampai di rumah, kami langsung makan siang dan bersiap-siap untuk snorkeling.

DSCN0056

Menu Makan Siang

DSCN0070

Di depan home stay kami

Jam 1 siang kami menuju dermaga untuk bersiap-siap snorkeling menggunakan perahu nelayan. Tak sabar rasanya kami untuk langsung berenang di tengah lautan.

DSCN2367

Di depan dermaga

100_2546

100_2561

Kami memulai snorkeling di tengah lautan dengan tujuan Pulau APL, Pulau Tikus dan Pulau Kudus. Begitu nyebur, kami melihat ikan-ikan bergaris biru kuning, dan warna warni lainnya berseliweran di depan kami. Huaaa… senangnya

100_2627

DSCN2430

DSCN2514

DSCN2445

DSCN2516

Setelah puas bersnorkeling di tengah lautan, kami diajak untuk mampir ke Pulau Tikus. Pulau kecil tak berpenghuni. Pasirnya putih dan airnya bening.

100_2565

Pulau Tikus

100_2661

Dan pertama kalinya aku memegang bintang laut berwarna putih. Bintang laut hidup di antara hamparan pasir putih, jadi kita mesti memiliki mata yang jeli untuk melihatnya. Pertama kali pegang bintang laut rasanya keras, tapi setelah beberapa lama tentakel dibawahnya mulai bergerak-gerak dan terasa geli di tangan.

100_2657

Bintang Laut

Setelah puas bermain dan berkeliling di Pulau Tikus kami kembali ke perahu untuk melanjutkan snorkeling ke spot lainnya. Dan spot-spot yang lain tetap indah penuh dengan biota laut yang membuatku tak pernah bosan bermain di laut walaupun aku tak bisa berenang.

100_2620

100_2632

100_2614

100_2631 - Copy

100_2619 - Copy

DSCN2513

DSCN2512

100_2633

DSCN2511

DSCN2453

Setelah puas bermain di dalam laut, kami kembali ke Pulau Pari untuk bersepeda melihat matahari terbenam di ujung dermaga LIPI. Jarak antara dermaga besar menuju tempat ini sekitar 15 menit menggunakan sepeda. Kita juga bisa mampir ke pesisir pantai sebelum menuju tempat ini. LIPI di Pulau Pari adalah tempat penelitian untuk biota laut. Kita bisa melihat pohon mangrove serta kura-kura di kolam kecil selama menyusuri dermaga kecil menuju ujung LIPI. Jangan lupa menggunakan obat anti nyamuk sebelum ke sini, karena nyamuknya banyak sekali. Maklum lokasi ini seperti hutan mangrove. Di seberang dermaga kecil ini pula kita bisa melihat villa villa mewah yang sedang di bangun. Konon katanya pemilik villa villa tersebut adalah pejabat-pejabat terkenal di Jakarta.

IMG_0280

Gerbang LIPI Pulau Pari

DSCN0121

DSCN0118

DSCN0160

DSCN2532

100_2766

Setelah bersepeda dan melihat matahari terbenam di LIPI kami melanjutkan perjalanan ke dermaga besar untuk berfoto-foto di sana. Kami melanjutkan acara dengan makan malam di pinggir pantai dengan menu ikan bakar dan cumi bakar. Salah satu favorit makananku, cumi bakar dan tentu rasanya manis dan segar karena langsung dari laut. Sambel yang disajikan selain sambal kecap, juga ada sambal kacang (mungkin salah satu khas Pulau Pari seafood bakar disajikan dengan sambal kacang).

DSCN0196

DSCN0185

DSCN0174

Esok harinya, kami memulai pagi dengan bangun jam 5 pagi untuk bersepeda menuju dermaga besar. Dan ternyata… indah banget pagi di sini, langit berwarna gelap menuju warna biru terang, unggu dan memerah hingga memutih. Dan matahari selalu terbit lebih cepat jika kita berada di pantai. Jejeran pohon pinggir pantai juga terlihat begitu indah.

DSCN0243

Menuju Matahari Pagi di Dermaga Besar Pulau Pari

DSCN0208

DSCN0234

DSCN0242

DSCN0240

Jejeran Pohon Menuju Dermaga

Kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Perawan menggunakan sepeda. Melewati perkampungan dan jalanan penuh dengan alang-alang tinggi akhirnya kami sampai juga di Pantai Perawan. Pantai Perawan merupakan sebuah lagoon atau wilayah laut yang tenang tanpa ombak dengan kedalaman hingga 5 meter, dikelilingi pulau-pulau dan batu karang sepanjang pinggiran dan berpasir putih halus. Tak heran mengapa disebut Pantai Perawan karena pantai ini bersih dan indah sekali. Pantai Perawan dilengkapi dengan fasilitas lapangan volley serta beberapa gubuk untuk berisirahat. Selain berenang kita juga bisa menyewa sampan kecil atau besar (yang bisa diisi sampai 8 orang) dengan biaya 20ribu. Kita juga bisa berjalan sampai ke ujung kumpulan mangrove karena lautnya datar. Pasir disini juga lembut sekali seperti bedak. Kita juga bisa berjalan menyusuri pantai ini mencari tempat-tempat yang lebih sepi dan indah.

IMG_0236

Pantai Perawan

DSCN0248

DSCN2600

IMG_0244

Lapangan Volley  IMG_0233Sampan BesarDSCN0279    Perahu Sampan KecilDSCN0244DSCN0270

Dan akhirnya, perjalanan kami pun harus berakhir disini. Kami harus kembali lagi ke home stay untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta dan melanjutkan aktivitas kami.

5 thoughts on “Ke Pulau Pari Tanpa Berniat Bertemu Pari

  1. Pingback: Tulisan Blog Cindiltravel | CINDILTRAVEL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *