Kalimantan : Kesunyian di Sangalaki

cindiltravel sangalaki 1

Kaki ini melangkah di hamparan pantai berpasir putih kemudian memasuki jalan setapak di dalam hutan menebus pepohonan tinggi nan gelap. Hembusan angin beraroma air laut dan deburan ombak menuntunku ke sebuah tempat di pinggir pantai yang sunyi. Beberapa anak kecil mengelilingi sebuah kotak kayu di bawah pohon yang rindang, ku pikir mereka sedang bermain pasir layaknya anak kecil yang sedang berekreasi di pinggir pantai bersama keluarga. Ternyata prediksiku salah! Mereka sedang

bermain bersama tukik alias anak penyu yang ditaruh di dalam sebuah kotak kayu kecil beralaskan pasir putih.

cindiltravel sangalaki 2

Jangan berharap bahwa akan ada tempat penangkaran penyu terorganisir di sini, karena Sangalaki hanyalah pulau dengan ketenangan yang menjadi tempat peraduan para penyu untuk bertelur secara alami dan tak heran jika pulau Sangalaki dijadikan tempat konservasi alam bagi para penyu. Para penyu akan datang ke Pulau Sangalaki di malam hari untuk bertelur, pagi para pengunjung yang tinggal di sini diharapkan untuk tidak berkeliaran di malam hari bahkan untuk menyalakan cahaya karena dapat mengganggu ketenangan para ibu penyu dalam menetaskan telur-telurnya.

cindiltravel sangalaki 15

Setelah selesai bertelur dan menjaga di bawah cangkangnya, sang ibu penyu akan meninggalkan telur-telurnya untuk kembali ke lautan luas. Tukik, si anak penyu yang kecil dan lucu akan menetas dari telur-telur yang ditimbun oleh sang ibu penyu. Sayangnya kemungkinan hidup tukik ini hingga besar adalah seribu banding satu, karena sisanya dimakan predator. Sungguh berat perjuangan hidup sang tukik.

cindiltravel sangalaki 3

Tukik ini sangat lucu, bentuknya kecil dengan warna hitam gelap, bermata hitam. Ketika memegang tukik di tanganku, ia mengepak-ngepakan tangannya seolah-olah ingin terbang atau malah berenang. Jika meletakan tukik di pasir pantai maka ia akan menuju hamparan laut bebas seakan ia sudah tau dimana seharusnya ia hidup. Tetapi melepas tukik sebaiknya dilakukan pada malam hari agar ia dapat ke lautan dengan selamat tanpa dihantui predator seperti burung atau penghuni lautan yang dapat melihat jelas di siang hari.

cindiltravel sangalaki 4

Puas bermain dengan tukik yang lucu, aku melangkahkan kaki mengelilingi pulau Sangalaki melalui pinggir pantai berpasir putih halus nan bersih hingga akhirnya aku menemukan bangunan-banguan kayu berwarna merah yaitu “Sangalaki Manta Paradise” yang menawarkan penginapan dengan kealamian alam dan kesunyian di pinggir pantai.

cindiltravel sangalaki 12

cindiltravel sangalaki 10

cindiltravel sangalaki 9

cindiltravel sangalaki 11

cindiltravel sangalaki 16

Pada bagian depan gugusan penginapan ini ada sebuah bangunan besar yang sepertinya digunakan para diver untuk berkumpul. Ya, Sangalaki juga merupakan tempat favorit bagi para diver untuk diving dengan titik-titik penyelaman karang-karang laut yang indah, penyu, dan yang paling terkenal adalah ikan pari Manta. Ikan pari manta (Manta birostris) adalah salah satu spesies ikan pari terbesar di dunia. Lebar tubuhnya dari ujung sirip dada ke ujung sirip lainnya mencapai hampir 7 meter atau lebih.

cindiltravel sangalaki 13

cindiltravel sangalaki 14

Puas berkeliling dan makan siang di pinggir pantai di pulau Sanglaki, kami menuju dermaga Sangalaki untuk snorkeling di taman laut dangkal yang memiliki koral-koral cantik dan hewan-hewan laut seperti bintang laut dan ikan beraneka jenis.

cindiltravel sangalaki 7

Mas Memed, sang guide kapal mengajak kami untuk kembali ke speedboat dengan tujuan mencari Manta. Tapi kami tidak berharap banyak karena akhir tahun bukanlah waktu yang mudah untuk melihat Manta. Biasanya Manta banyak ditemui pada bulan Mei hingga Juni. Kami pun berkeliling-keliling mengikuti sang kapten kapal. Sang kapten kapal tiba-tiba berhenti dan bersiul-siul kencang ditengah lautan luas. Aku pikir dia sedang kelelahan, ternyata itu adalah cara nyanyian memanggil lumba-lumba! Karena menurut sang kapten kapal, ada lumba-lumba di sekitar kami. Dan setelah beberapa kali berhenti – bersiul – berjalan kembali – berhenti – bersiul dan kami pun berhasil melihat beberapa lumba-lumba berloncatan berirama di atas lautan. Woaaaah… rasanya indah sekali. Bahkan tontonan lumba-lumba terlatih di Ancol kalah jauh dengan loncatan bahagia kawanan lumba-lumba di lautan luas tanpa batas. Speedboat kami berpacu mengiringi kawanan lumba-lumba sampai akhirnya tak terlihat lagi.

Lagi-lagi kapal kami berputar-putar tanpa kejelasan mencari sang Manta yang tak kunjung datang. Sesekali kami menengok ke bawah lautan dan menerawang di kejauhan laut menunggu tanda-tanda kedatangannya. Sampai kami rasaya lelah menunggu dan memutuskan snorkeling ditengah lautan bersama 2 kawanan speedboat lainnya. Tiba-tiba teriakan beriringan dari grup sebelah memecahkan keheningan kami yang sedang bersnorkeling santai. Ternyata mereka dikejar-kejar kawanan ubur-ubur! Masih teringat dalam kenanganku berenang bersama ubur-ubur yang lucu dan menggemaskan di Danau Kakaban, tapi kali ini aku harus tersadar bahwa kawanan ubur-ubur yang ini akan membahayakan jiwa kami dengan “sengat mematikan”. Tanpa hitungan dan aba-aba semua kumpulan orang-orang berlomba berenang cepat beriringan tanpa putus menuju tangga speedboat. Kalau dilihat dari atas kapal pasti lucu banget!

cindiltravel sangalaki 5

Mas Memed, memberitahu bahwa kalau ada ubur-ubur berarti ada plankton, kalau ada plankton berarti ada Manta, karena plankton adalah makanan Manta. Dan kami pun langsung memincingkan mata berputar-putar keliling kapal dan ke bawah laut, berkali-kali tanpa henti berharap sang Manta datang. Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. 3 kawanan Manta datang dari kejauhan memperlihatkan kepakan sayapnya yang seperti sirip hiu. Detakan jantungku naik turun, nafas terasa berhenti menunggu sang Manta menuju speedboat kami, seolah-olah kami sedang mengitung mundur waktu malam tahun baru! Tapi logika kami tetap berjalan mempersiapkan kamera untuk mengabadikan moment yang mungkin tak datang dua kali dalam penghujung tahun. Beruntung, salah satu teman mengabadikannya melalui video kamera action yang sengaja ditenggelamkan di bawah speedboat dan kami semua sukses bahagia melihat 3 Manta berukuran lebih dari ukuran speedboat kami secara “live” melalui ponsel berlayar lebar. Kami takjud dengan keanggunan Manta yang berenang seperti mengajak kami menari dengan kepakan sayapnya, tapi Mas Memed malah bilang kalau “kepakan“ sayap Manta justru berbahaya jika ukuran Manta lebih besar dari speedboat bisa menjungkir balikan speedboat kami.

cindiltravel sangalaki 8

3 Manta yang berada di bawah kami berukuran antara 3 sampai 5 meter. Kenyataan itu membuat kami langsung melongo bego, antara takjub sama takut. Beberapa teman berniat berenang mengejar Manta, Mas Memed cuma berpesan bahwa Manta berenang melawan arus untuk makan plankton dengan mudah dengan ukuran mulutnya yang besar. Kita cukup berenang berlindung di sisi bawah Manta agar tidak terkena kepakan sayapnya sampai nafas kecapean berenang melawan arus. Dan terbukti, yang ngejar pada nyerah. Hahaha!

cindiltravel sangalaki 6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *