Sulawesi : Daun Kelor, Dari Peribahasa Menjadi Sayur Uta Kelo

Pasti sering denger peribahasa : Dunia tak selebar daun kelor. Pada tau ga artinya ? Artinya agar bahwa kita harus jalan-jalan biar tau luasnya dunia *kalo ini ngaco deh, mentang-mentang suka ngukur jalan malah bikin peribahasa O____O. Ok, sebenernya arti dari peribahasa itu adalah “jangan mudah putus asa dalam menghadapi keadaan atau kegagalan, karena dunia itu luas dan masih kesempatan baru” selama kita mau berusaha. Terus apa hubungannya Daun Kelor sama cindiltravel?

Waktu berkunjung ke Palu, Sulawesi Tengah aku ditawarkan menu UTA KELO katanya sih salah satu makanan khas Sulawesi Tengah. Dengan polos aku tanya, apa itu Uta Kelo ? Daun Kelor. Apaaaaa??? Daun kelor itu bukannya yang ada di peribahasa yang suka dihapalin anak-anak SD ya? Emang Daun Kelor bisa dimakan???? —> kalo laper suka mulai oon plus nada suara naik 2 oktaf. HAHAHAHAHAHA. Terus aku mulai bertanya, daun kelor hidupnya dimana? Dimasak seperti apa? Emang makanan sehari-hari? Rasanya? Mungkin yang nawarin menu udah mulai jengah, akhirnya aku pun disuruh nunggu sampai si UTA KELO datang.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu penuh dengan penasaran hadir juga di meja makan. Uta Kelo disajikan dalam sebuah mangkuk kecil yang terbuat dari batok kelapa. Tampilannya sekilas seperti daun katuk, tapi berukuran lebih kecil dan dimasak santan. Dengan rasa penuh penasaran, aku pun mulai mencicipi dan mengaktifkan indera pengecap-ku dalam setiap detail Uta Kelo yang masuk ke dalam mulutku. Santan sebagai bahan utama kuah ini membuat gurih pada masakan ini, tetapi ada ebi (udang kering) yangmembuat sensasi kecil dalam setiap kunyahanku. Dan siapa sangka, daun kelor ini terasa enak setelah dimasak, rasanya hampir sama dengan daun katuk tapi lebih kecil dan lebih ringan. Yang paling favorit adalah potongan terong yang lembut juga ada di dalamnya.

cindiltravel uta kelo sulawesi tengah

penampakan UTA KELO

Perpaduan rasa santan, daun kelor, ebi, bawang merah, cabai, garam, terong menyatu dalam santapan menyehatkan bernama Uta Kelo. Kenapa Uta Kelo menyehatkan? Daun Kelor atau merunggai (Moringa oleifera) berasal dari keluarga tumbuhan bernama Moringaceae yang tingginya bisa mencapai 7—11 meter. Daun kelor yang berbentuk bulat seperti telur dengan ukuran kecil-kecil dapat dibuat sayur atau obat mulai dari batang, daun, bunga hingga buah-nya! Daun Kelor hidup subur di Indonesia sebagai tumbuhan pagar alias pengganti pagar rumah, asal jangan pagar makan tanaman yaaaak *ga jadi dimasak dong tuh daun kelor! Tapi siapa sangka tanaman pagar ini mengandung antioksidan yang sangat tinggi dan sangat bagus untuk penyakit yang berhubungan dengan masalah pencernaan, misalnya luka usus dan luka lambung. Selain itu manfaat daun kelor juga menurunkan demam, radang, bahkan kanker. Mengkonsumsi daun kelor dapat melengkapi kebutuhan nutrisi dalam tubuh dan membantu meningkatkan energi dan ketahanan

Rasanya harga Rp 8.000,- seporsi Uta Kelo di RM Heni Putri Kaili sudah tak bisa dibandingkan dengan manfaat Daun Kelor *sambil nanya arti peribahasa Dunia tak selebar DAUN KELOR.

Jadi apa menu buka puasamu hari ini ?

2 thoughts on “Sulawesi : Daun Kelor, Dari Peribahasa Menjadi Sayur Uta Kelo

  1. Pingback: Sulawesi : Daun Kelor, Dari Peribahasa Menjadi Sayur Uta Kelo — Cindiltravel | Suetoclub's Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *