Aceh : Mengenang Bencana di Museum Tsunami Aceh

Aku pernah merasakan secara langsung bencana gempa tektonik berkekuatan besar saat tinggal di Yogya tahun 2006 dan sempat mengalami trauma. 27 Mei 2006 jam belum tepat pukul enam tapi guncangan sebesar 5,9 scala richter selama 57 detik membangunkan tidur lelapku. Aku pun terbangun dan berusaha menyelamatkan diri dengan berusaha keluar kamar tetapi karena goncangan hebat yang bergerak kiri dan kanan menyebabkan kunci kamar sulit terbuka. Setelah berhasil keluar dan menyelamatkan diri dari reruntuhan atap genteng dan hiasan keramik besar aku masih beryukur karena selamat.Sesaat sinyal telekomunikasi hilang, gempa terus bergoncang dan riuh jalan raya menandakan ada yang tidak beres. Aku pun bergegas keluar rumah dan ternyata sepanjang jalan aku melihat banyak rumah yang luluh lantah dan korban yang membutuhkan bantuandi jalan. Sedih dan pilu rasanya melihat kejadian ini. Sebuah perkampungan yang dulu kulihat rumah-rumah berdiri tegak saat itu hancur tak bersisa. Aku masih ingat, biasanya langit Yogya tersenyum cerah saat sore menjelang tapi kala itu langit Yogya bermuram diri dengan mendung menggantung dan gelap gulita tanpa cahaya listrik sekalipun. Kami berjaga di luar hingga pagi menjelang karena trauma berada di dalam rumah.

Itu hal yang nyata kurasakan gempa terjadi di Yogya. Kali ini aku melihat sendiri sisa-sisa bencana Tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 menewaskan lebih dari 130.000 orang akibat gempa berkekuatan 9,1 scala richter ditambah dengan menghilangnya laut sesaat yang kemudian memuntahkan jutaan liter air ke daratan. Indonesia dinyatakan sebagai korban terbanyak dan menjadi bencana terdasyat sepanjang abad 21. Pak Firdaus, driver kami selama di Aceh menceritakan gelombang tsunami setinggi 30 meter menghancurkan bangunan hampir di seluruh kota Aceh yang membawanya entah kemana. Aku sontak memandang bangunan tinggi di kiri dan kanan jalan, membayangkannya saja sudah membuatku merinding dan menahan air mata.
Continue reading

Aceh : Piknik ke Benteng Jepang Pulau Weh

Perjalanan menuju Benteng Jepang ternyata cukup jauh dari kota Sabang. Kami harus melewati jalan kelok delapan yang mengitari bukit. Bukannya pusing, aku malah terus tertarik pada poros putaran serta pemandangan perbukitan gersang di kanan kiri dan tak jarang aku melihat sapi dan kerbau yang kurus kering. Seharusnya saat itu bukan musim kemarau, tapi asap dari pembakaran hutan di Pulau Sumatera menyebabkan perubahan musim yang tak jelas bagi alam. Kami pun tak berdaya pada alam kali ini, tetap berjalan menuju ujung Sumatera di tanah Sabang, Aceh. Tapi toh alam semesta tetap baik pada kami, walaupun udara berasap, kami tetap bisa menikmati sisa-sisa kecantikan Pulau Weh sampai detik terakhir.

Bang Mizi sempat menunjukkan batu gajah di Pantai Anoi Hitam dari atas bukit. Berkali-kali aku memincingkan mata “kok ga ada mirip-miripnya sama gajah?” tanyaku lugu. “Mau turun tidak?” tanya Bang Mizi sopan agar aku beneran bisa lihat bentuk gajah-nya. Tobaaaaat! Melihat pasirnya Pantai Anoi Hitam yang beneran hitam rasanya aku pilih langsung ke Benteng Jepang saja.

Mobil dipinggirkan dijalanan besar dan kami lanjut berjalan kaki ke belakang warung kopi pinggir jalan dan menyusuri bukit bertangga. Tanpa tanda

Continue reading